<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Super Family Online Class</title>
	<atom:link href="http://class.sekolahorangtua.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://class.sekolahorangtua.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 03:27:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Minggu 34 : Mengalami Pacaran Tiap Hari</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-34-mengalami-pacaran-tiap-hari</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-34-mengalami-pacaran-tiap-hari#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 34 - Pondasi Utama Keenam membangun “Keluarga Impian” : Mengalami pacaran setiap hari dengan pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1584</guid>
		<description><![CDATA[Kita telah tiba di bagian akhir materi Online Class Sekolah Orangtua. Di materi kali ini kita akan membahas tentang bagaimana kita menjaga relasi dengan pasangan sebagai pondasi untuk memperoleh energi dalam mengasuh dan mendampingi anak-anak kita.
Relasi dengan pasangan sangatlah penting dalam rangka menjaga keutuhan rumah tangga dan memberikan teladan yang baik kepada anak-anak tentang bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kita telah tiba di bagian akhir materi Online Class Sekolah Orangtua. Di materi kali ini kita akan membahas tentang bagaimana kita menjaga relasi dengan pasangan sebagai pondasi untuk memperoleh energi dalam mengasuh dan mendampingi anak-anak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Relasi dengan pasangan sangatlah penting dalam rangka menjaga keutuhan rumah tangga dan memberikan teladan yang baik kepada anak-anak tentang bagaimana kita harus bersikap dengan orang lain dan lawan jenis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam berbagai kasus terapi seringkali saya menjumpai akar masalah dari problem seorang anak adalah renggangnya relasi antar orangtua – dalam hal ini adalah suami istri. Hal ini bisa berdampak pada sikap anak yang menarik diri karena ia merasa tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jangka panjang jika pertengkaran antara kedua orangtua yang  tak kunjung selesai akan menyebabkan si anak memiliki perasaan bersalah yang sangat dalam. Pada gilirannya akan menyedot energi anak untuk bisa berprestasi dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi teringat salah satu kasus peserta Super Family Class – sebuah kelas 2 hari ++ yang dirancang untuk mengajarkan pondasi membentuk keluarga yang bisa mendukung kesuksesan setiap anggotanya. Dalam kelas tersebut salah seorang peserta tiba-tiba menangis hebat dan meluapkan emosinya dengan memukuli dirinya sendiri saat saya membawakan sesi renungan dan introspeksi diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mereda saya bertanya pada peserta tersebut apa yang dirasakannya. Dan ia menjawab bahwa kedua orangtuanya memiliki relasi yang sangat tidak baik sejak ia SD – saat bercerita si ibu ini berusia 29 tahun dan memiliki seorang anak. Kedua orangtuanya sering bertengkar dengan alasan yang sepele dan ayahnya juga sering menggunakan kekerasan fisik pada ibunya. Sebagai anak ia hanya bisa melihat semua itu terjadi dan hanya bisa berharap kedua orangtuanya rukun mendampingi anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama pertengkaran semakin sering dan menjadi semakin tidak masuk akal. Kedua orangtuanya sering mengatakan bahwa mereka masih bersatu dalam satu rumah hanya demi anak-anak. Dan ini membuat si anak makin merasa bersalah karena secara tidak langsung si anak merasa bahwa merekalah penyebab ketidakharmonisan relasi ayah dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan tidak berdaya pada diri anak ini terus dibawa hingga dewasa dan termanifestasi dalam segala aspek kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun bertanya pada si ibu tersebut apakah ia memiliki perasaan tidak berdaya yang sering muncul dalam hidupnya saat harus menghadapi berbagai tantangan hidup. Dan ia menganggukkan kepala seraya menahan tangisnya yang hampir meledak lagi karena pertanyaan saya tersebut rupanya memicu sebuah memori yang sayapun tak tahu. Saya hanya  bisa merasakannya melalui ratapan tangisnya dan bahasa tubuhnya yang seolah terbelenggu dengan sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita si ibu akhirnya diterapi di luar kelas oleh salah seorang alumni Akademi Hipnoterapi Indonesia karena dikhawatirkan bisa mengganggu jalannya kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa setiap anak yang normal menginginkan kedua orangtuanya saling menyayangi dan  saling menghormati satu sama lain. Inilah yang membuat mengapa relasi yang sehat antara kedua orangtua benar-benar menjadi hal penting dalam proses mendidik dan mengasuh anak.</p>

<p style="text-align: justify;">Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan hal tersebut?
Oke inilah beberapa hal mendasar yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri :
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2095" title="42-25042563" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-25042563.jpg" alt="42-25042563" width="266" height="400" /></p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>setiap hari perlu saling tersenyum satu sama lain dan menghidupkan canda tawa untuk hal-hal kecil</li>
	<li>pelukan dan ciuman sayang harus dilakukan tiap hari minimal dua kali sehari</li>
	<li>saat menanggapi sesuatu biasakanlah untuk berhenti sesaat dan berpikir jadi tidak langsung reaktif. Intinya perlambat tempo komunikasi agar kita punya waktu untuk menganalisa apa yang sedang terjadi</li>
	<li>saat hendak menegur pasangan tentang sesuatu mulailah dengan urutan pertanyaan :
<ul>
	<li>Hal baik apa yang sudah terjadi?</li>
	<li>Apa yang bisa ditingkatkan?</li>
	<li>Apa yang bisa dipelajari dari peristiwa tersebut?</li>
</ul>
</li>
	<li>Sebulan sekali perlu waktu untuk pacaran kembali. Usahakan ada yang menjaga anak-anak dan pergilah keluar berdua saja. Bisa nonton bioskop, makan di tempat favorit saat pacaran, melakukan aktivitas bersama seperti memancing, berkebun, jalan pagi, wisata kuliner dsb. Saat-saat berdua seperti ini tidak boleh membicarakan bisnis, anak-anak ataupun urusan rumah tangga lainnya. Inilah saat membicarakan diri sendiri dan pasangan seperti remaja dimabuk cinta.</li>
	<li>Sesekali perlu juga menuliskan surat cinta minimal 1 halaman A4 pada pasangan kita dan kemudian meninggalkan surat itu pada tempat tertentu yang akan mengejutkan pasangan</li>
	<li>Kirimkan juga sms pujian dan puji syukur karena ia telah menjadi pasangan yang terbaik untuk diri Anda selama ini</li>
	<li>Berpelukanlah di depan anak-anak dan setelah itu secara bergantian peluklah anak-anak</li>
	<li>Secara berkala mintalah maaf bahwa kalau ada sesuatu yang salah yang telah Anda lakukan belakangan ini dan katakan bahwa ia tetap yang terbaik untuk diri Anda</li>
	<li>Pada hari-hari istimewa buatlah kejutan seperti merancang makan malam berdua di restoran favorit atau restoran mewah atau menghadiahinya bunga, sabuk, cincin, kalung, gadget atau hadiah lainnya.</li>
	<li>Jadikan hubungan seks sebagai sesuatu yang sakral dan istimewa untuk mencurahkan perasaan cinta pada pasangan</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nah itulah hal-hal penting dan mendasar yang tentunya bisa ditambah sendiri sesuai situasi dan kondisi. Namun saran saya jangan dikurangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara semua hal tersebut satu hal mutlak yang harus ditingkatkan terus menerus adalah keterampilan berkomunikasi dan memahami diri sendiri dan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena pada dasarnya relasi yang baik terjalin melalui pemahaman yang dalam atas diri sendiri dan orang lain yang termanifestasi dalam cara kita berkomunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Para orangtua Indonesia tercinta, akhirnya kami tim Sekolah Orangtua Indonesia – Ariesandi, Sukarto, Sandra dan seluruh staf pendukung – mengucapkan SELAMAT! Karena Anda telah berkomitmen untuk menuntaskan program belajar mandiri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus tingkatkan diri demi diri sendiri dan anak-anak tercinta kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai jumpa di kelas-kelas yang diadakan Sekolah Orangtua Indonesia. Informasi tentang kelas-kelas parenting bisa Anda akses di <a href="http://www.sekolahorangtua.com" >www.sekolahorangtua.com</a> atau email ke <strong><span style="text-decoration: underline;">cs@sekolahorangtua.com</span></strong></p>

<p style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">
</span></strong>

<p style="text-align: justify;"><strong>Salam hangat penuh cinta dari kami untuk Anda sekeluarga
Tim SekolahOrangtua.com</strong>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-34-mengalami-pacaran-tiap-hari/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 33 : Menangani Krisis dengan Pasangan</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-33-menangani-krisis-dengan-pasangan</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-33-menangani-krisis-dengan-pasangan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 32 s/d 33 - Pondasi Utama Kelima membangun “Keluarga Impian” : Menangani Krisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1580</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita berbicara tentang kehidupan berumahtangga bersama pasangan maka mau tak mau kita harus siap membicarakan tentang kemungkinan adanya ketegangan yang bisa terjadi antar pasangan. Semulus apapun perjalanan yang kita harapkan ketegangan antar pasangan tak terhindarkan. Yang membedakan hanyalah waktu terjadinya dan skala ketegangan.
Mengapa hal ini tak terhindarkan? Karena setiap dari kita membawa pengalaman masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jika kita berbicara tentang kehidupan berumahtangga bersama pasangan maka mau tak mau kita harus siap membicarakan tentang kemungkinan adanya ketegangan yang bisa terjadi antar pasangan. Semulus apapun perjalanan yang kita harapkan ketegangan antar pasangan tak terhindarkan. Yang membedakan hanyalah waktu terjadinya dan skala ketegangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa hal ini tak terhindarkan? Karena setiap dari kita membawa pengalaman masa lalu yang berbeda. Pengalaman yang berbeda ini membentuk persepsi yang berbeda. Ketika dua insan manusia mengikat janji perkawinan untuk hidup serumah maka itu juga berarti bertemunya dua persepsi yang berbeda dalam satu rumah. Tidaklah mudah untuk menyatukan hal ini. Yang bisa dilakukan hanyalah sebuah kompromi setahap demi setahap.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2097" title="42-23602873" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-23602873.jpg" alt="42-23602873" width="267" height="400" /></p>
<p style="text-align: justify;">Niat baik dari kedua belah pihak untuk membenahi diri tanpa menuntut pasangannya melakukan hal yang sama adalah sebuah titik penting untuk mengubah situasi.</p>

<p style="text-align: justify;">Suatu saat dalam kelas Family Hypnotherapy Training seorang ibu meminta waktu berbicara pribadi pada saya. Ia menceritakan bagaimana menderitanya dirinya menghadapi perlakuan suaminya. Ia mengharapkan suaminya berubah namun tak kunjung terjadi. Kemudian ia memutuskan untuk mengubah dirinya sendiri dan berharap suaminya ikut berubah. Namun kali ini upayanya gagal juga bahkan ia merasa sama sekali tak dihargai atas upayanya untuk berubah. Hal ini membuatnya makin terpuruk dalam situasi mental yang tak menentu.
Saat itu saya menyampaikan pada sang ibu bahwa keputusan untuk berubah guna meningkatkan diri adalah untuk kepentingan kita pribadi. Karena segala sesuatu di sekitar kita tak kekal adanya. Pasangan bisa meninggalkan kita namun kita harus tetap senantiasa bersama dengan diri kita sendiri menjalani hidup ini. Karena itu saat kita memutuskan untuk berubah maka berubahlah demi diri kita tanpa mengharapkan orang lain ikut berubah juga. Inilah yang disebut melakukan perubahan dengan tulus.
<p style="text-align: justify;">Saat menangani ketegangan antar pasangan saya seringkali menjumpai salah satu pasangan menuntut pasangannya untuk ikut berubah juga. Kalimat semacam “Kalau dia tak berubah mengapa saya harus susah-susah berubah?” atau “Enak saja dia hanya mengharapkan saya yang berubah, kalau dia tak berubah kan percuma saja karena tak ada keseimbangan” adalah kalimat yang cukup sering terlontar. Jika kita mendengar kalimat semacam itu bagaimana pandangan kita terhadap orang yang melontarkannya? Bukankah itu sikap kekanak-kanakan? Ya …… betul sekali orang yang melontarkannya dewasa secara fisik namun masih anak-anak secara mental.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita berbicara mengenai pasangan memang idealnya keduanya berubah sehingga hasilnya bisa lebih baik. Namun seringkali terjadi salah satu pasangan tidak atau belum menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Jika kita tetap tak mau berubah hanya karena pasangan kita belum menyadari masalah dalam dirinya maka kita pribadi yang paling dirugikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika terjadi seperti ini maka biasanya saya mengingatkan pada pasangan yang sudah sadar untuk berubah bahwa dialah orang kunci dalam masalah ini. Apapun yang dilakukan atau ditunjukkan oleh pasangan kita keputusan akhir untuk merasakan sesuatu ada di tangan pribadi masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pasangan kita mengumpat maka keputusan akhir untuk merasa tersinggung ada pada kita. Jika kita tersinggung mungkin apa yang dikatakan pasangan kita ada benarnya. Namun jika itu tak benar maka kita tak perlu tersinggung. Jadi keputusan akhir untuk tersinggung atau marah ada pada kita. Tak ada yang bisa membuat kita marah, tersinggung atau merasakan emosi negatif lainnya kecuali kita mengijinkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu konflik yang besar terjadi karena kita turut serta menyumbang terjadinya konflik tersebut. Jadi penanganan satu konflik sebaiknya memang dimulai dari penanganan diri sendiri. Saat kita menjadi lebih tenang maka kemungkinan besar solusi bisa tercapai.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2098" title="42-23134977" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-23134977-300x200.jpg" alt="42-23134977" width="300" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berikut beberapa hal penting yang perlu disadari terkait dengan penyelesaian konflik dengan pasangan :</p>

<ol style="text-align: justify;">
	<li>berfokuslah pada penyelesaian masalah – bukan mencari siapa yang memulai, siapa yang benar dan siapa yang salah. Ingat sebuah konflik meledak karena setiap orang yang terlibat dalam konflik tersebut ikut menyumbang peran ataupun pemikiran</li>
	<li>jangan percaya 100% pada ungkapan “upayakan masalah selesai sebelum tidur malam”. Memang adakalanya lebih baik menyelesaikan segala sesuatu sebelum kita pergi tidur malam. Namun tak jarang juga ada beberapa konflik yang keputusannya akan lebih baik diambil setelah kita menenangkan diri dengan tidur malam. Pada saat menjelang tidur katakan pada pasangan “mungkin lebih baik kita meletakkan sejenak masalah ini sebelum kita berangkat tidur, besok pagi kita akan bangun dengan semangat baru dan pemikiran jernih untuk menyelesaikan masalah ini”. Tentunya diperlukan kemampuan untuk bisa memisahkan diri kita dengan masalah sehingga bisa menikmati tidur malam dengan baik. Manajemen emosi diperlukan untuk bisa menjalankan hal ini. Program 2 hari Super Family Class akan membantu dalam hal ini.</li>
	<li>pada saat terjadi konflik cobalah periksa diri sendiri terlebih dahulu. Apakah konflik tersebut merupakan upaya kita untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan emosi dasar? Ada tiga kelompok besar kebutuhan emosi dasar manusia. Kebutuhan mendapatkan rasa aman, dicintai (diakui, dihargai, dipahami) dan kebutuhan mendapatkan otonomi (mengontrol sesuatu/seseorang). Jika memang begitu cobalah tanyakan apakah hanya dengan melalui konflik itu kita bisa memenuhi kebutuhan emosi dasar tersebut? Atau ada cara lain yang lebih sehat yang bisa kita tempuh tanpa melalui konflik.</li>
	<li>Untuk mencegah terjadinya konflik dengan pasangan maka penuhi tangki cinta pasangan. Prinsip ini telah dibahas di bagian depan dan keterangan lebih detail tentang tangki cinta bisa dibaca di buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”</li>
	<li>Dalam kehidupan sehari-hari pastikan komunikasi yang kita lakukan memenuhi apa yang telah ditulis dan diuraikan di minggu-minggu awal online class ini.</li>
	<li>Pastikan juga untuk memahami kepribadian pasangan kita dengan lebih baik sehingga kita menjadi lebih tahu tentang kebutuhannya secara mendasar. Materi ini juga telah diuraikan di minggu-minggu awal online class ini. Silakan lihat kembali dan perdalam materi tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Baiklah sekarang kita telah mengetahui apa yang harusnya kita lakukan guna meningkatkan relasi kita dengan pasangan. Menghargai dan menyayangi pasangan kita dengan cara yang benar akan menciptakan suasana yang hangat di rumah. Akibat tak langsungnya adalah anak-anak yang merasa aman dan betah di lingkungan rumah.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-33-menangani-krisis-dengan-pasangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 32 : Penanganan Krisis dengan Anak-Anak</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-32-penanganan-krisis-dengan-anak-anak</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-32-penanganan-krisis-dengan-anak-anak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 32 s/d 33 - Pondasi Utama Kelima membangun “Keluarga Impian” : Menangani Krisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1582</guid>
		<description><![CDATA[Krisis merupakan bagian dari hidup. Dalam keluarga kami, krisis kami maknai sebagai ujian. Jika kita ingin naik kelas maka kita perlu melewati ujian terlebih dahulu, bukan ?
Dalam sebuah keluarga krisis dengan anak kemungkinan akan terjadi karena anak merupakan seorang manusia juga yang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda dengan kita. Hanya dengan benda mati saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Krisis merupakan bagian dari hidup. Dalam keluarga kami, krisis kami maknai sebagai ujian. Jika kita ingin naik kelas maka kita perlu melewati ujian terlebih dahulu, bukan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah keluarga krisis dengan anak kemungkinan akan terjadi karena anak merupakan seorang manusia juga yang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda dengan kita. Hanya dengan benda mati saja, yang dapat dipastikan tidak akan terjadi krisis karena mereka relatif akan “menurut” kepada pemiliknya, kecuali kalau mereka rusak/mati. Perbedaan pikiran dan perasaan ini yang dapat menjadi pemicu terjadinya konflik.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan krisis dengan anak antar keluarga, hanyalah pada derajat kompleksitas permasalahannya. Krisis dengan derajat kompleksitas rendah : anak tidak mau mendengarkan kita, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya, usil kepada teman atau saudaranya, mencontek saat ujian. Hingga yang derajat kompleksitas tinggi :  terlibat perkelahian, sampai dengan menggunakan obat terlarang. Untunglah krisis ini semua bisa dicegah tapi jika sudah terlanjur terjebak dalam krisis dengan anakpun masih ada jalan untuk memperbaikinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2100" title="42-19750305" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-19750305-300x200.jpg" alt="42-19750305" width="300" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;">Secara garis besar, minggu ini kita akan belajar mengenai 3 P yaitu Pencegahan, Penanganan dan Pemulihan dari krisis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ilustrasi, krisis dapat kita ibaratkan dengan bencana alam. Di dalam bencana alam, 3 P ini sangat penting. P pertama yaitu pencegahan. Pada bencana alam, pencegahan lebih bersifat meminimalkan korban yang terjadi dan memprediksi kapan terjadinya bencana. Peminimalan korban dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang benar mengenai tindakan yang tepat yang perlu dilakukan disaat bencana alam terjadi. P yang kedua yaitu penanganan bencana alam, lebih ditekankan bagaimana mengatasi dan memperbaiki kerusakan akibat bencana alam. P yang terakhir lebih ditekankan bagaimana kita membangun kembali infrastruktur yang ada menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jepang merupakan negara terbaik yang menerapkan 3 P dalam menghadapi gempa. Jepang, sama halnya dengan Indonesia, merupakan negara yang rawan mengalami gempa bumi. Gempa yang berkali-kali melanda Jepang menyebabkan Jepang menjadi negara dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Gempa ini tidak menyurutkan semangat rakyat Jepang untuk tetap berkarya dan hidup. Justru dengan kerusakan akibat gempa menjadikan Jepang negara yang semakin maju. Bahkan, pembangunan dilakukan lebih baik dan lebih bagus daripada sebelum terjadi gempa.</p>
<p style="text-align: justify;">P pertama, pencegahan korban lebih banyak dilakukan melalui pendidikan. Sekolah merupakan salah satu alat untuk mengajarkan pada murid-murid bagaimana bertindak ketika gempa terjadi. Alhasil, penurunan jumlah korban sangat signifikan yaitu 142.087 orang (tahun 1923, gempa yang melanda dataran Kanto, Jepang) menjadi 6.481 jiwa (17 Januari 1995, gempa di kota Kobe, Jepang). Penanganan korban bencana pun berlangsung sangat baik. Untuk meminimalkan jumlah korban, pemerintah Jepang mengandalkan masyarakat sebagai kunci utama upaya penyelamatan. Penyelamatan lebih cepat dilakukan dengan mengandalkan kekuatan masyarakat. Demikian pula pada upaya pemulihan. Untuk gempa di Kobe, Jepang hanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk memperbaiki semua kerusakan gempa dan membangunnya lebih baik dari sebelumnya. Ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa terjadinya bencana bukanlah akhir dari kehidupan tapi bagaimana kita dapat bangkit kembali dan berusaha lebih baik lagi dalam menghadapi bencana yang serupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita belajar menghadapi krisis seperti rakyat Jepang menghadapi gempa.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2101" title="42-24742820" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-24742820-300x197.jpg" alt="42-24742820" width="300" height="197" /></p>

<p style="text-align: justify;"><strong>Pencegahan Krisis</strong>
Pembelajaran pada minggu-minggu sebelumnya merupakan pembelajaran untuk mencegah keluarga kita terjerumus dalam krisis. Namun untuk menyamakan persepsi, ada baiknya kita rangkum dalam tulisan singkat di bawah ini.
<ol style="text-align: justify;">
	<li> Setiap anak akan menunjukkan perilaku menyimpang sebagai upaya untuk memberikan sinyal adanya suatu kebutuhan dasar yang belum terpenuhi dari kita. Mungkin saja, kita terlalu sibuk sehingga anak kita merasa terabaikan oleh kita atau tangki cintanya kosong atau gaya kita berkomunikasi tidak sesuai dengan kepribadiannya. Hal-hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku yang kemudian dapat berkembang menjadi krisis.
Kepekaan anda dalam mendeteksi perubahan perilaku pada anak sangat diperlukan di sini. Pengalaman ibu Siska dapat kita jadikan pelajaran bahwa ketika tangki cinta anak kosong maka anak akan memberikan sinyal kepada kita. Ria, 4 tahun tiba-tiba mogok sekolah, ia ngotot tidak mau pergi ke sekolah ketika tahu ibunya akan pergi ke kota Malang. Walaupun, ia sudah diberi penjelasan bahwa ibunya akan pergi sehari saja dan akan langsung pulang, tidak menginap, Ria tetap saja tidak mau pergi ke sekolah. Dengan penuh tanda tanya, ibu Siska memikirkan perubahan sikap putrinya, yang biasanya suka sekali pergi ke sekolah. Akhirnya, ia diingatkan oleh suaminya, ada kemungkinan perubahan sikap Ria ini berkaitan dengan promosi jabatan yang baru saja ia peroleh. Jabatan yang baru ini menyebabkan Ibu Siska menjadi lebih sibuk dari biasanya dan akhirnya berdampak pada kualitas serta kuantitas waktu bermain dengan Ria. “Oh, pantas saja, akhir-akhir ini Ria lebih rewel dari biasanya dan mudah sekali mengambek, jika saya pulang terlambat.”</li>
	<li>Gunakan Aturan Emas Pengasuhan untuk mencegah terjadinya krisis yaitu : Perlakukanlah anak anda sama dengan anda ingin diperlakukan jika anda berada pada posisinya (Hunt, 2001). Dengan demikian, anda akan selalu ingat bahwa anak anda pun sebenarnya sama dengan anda yaitu ingin dihargai dan didengarkan.  Hadiah paling berharga untuk anak anda, bukanlah sebuah pesta ulang tahun yang meriah, hadiah yang mahal ataupun rumah mewah dengan mainan lengkap sebagai isinya. Hadiah spesial bagi anak anda adalah diri anda sendiri, sentuhan anda, bercakap-cakap dengan anda, didengarkan oleh anda dan bermain dengan anda. Anak yang mendapatkan perlakuan baik seperti perhatian, kesabaran, dan cinta akan membentuk dirinya menjadi anak yang memiliki toleransi yang baik pula.</li>
	<li>Salah satu upaya pencegahan permasalahan berkembang menjadi krisis adalah merencanakan tindakan yang akan anda ambil ketika krisis. Sama halnya dengan upaya pencegahan dampak gempa di Jepang. Mereka secara rutin, setiap tanggal 1 September, melakukan latihan tindakan yang akan dilakukan jika terjadi gempa. Dengan demikian, ketika gempa tersebut benar-benar terjadi, tubuh dan pikiran sudah terlatih bagaimana harus bertindak dan tidak lagi mengalami panik. Lakukan hal serupa sekarang ini, disaat keluarga anda baik-baik saja.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini tahapan pengimajinasian yang dapat anda lakukan ketika anda berhadapan dengan anak anda yang telah melakukan tindakan yang tidak anda inginkan, apapun itu :</p>

<ol>
	<li>Bayangkan apa kemungkinan perasaan dan pikiran anda yang akan muncul ketika mendengar atau melihat perilaku yang tidak anda inginkan terjadi di depan anda. Mungkin saja reaksi awal anda adalah marah, sedih, kecewa, putus asa dll.
Perasaan saya …………………………………………………………………………………………………………………………………
Pikiran saya
…………………………………………………………………………………………………………………………………</li>
	<li>Bayangkan pula reaksi yang akan anda ambil saat itu. Mungkin saja anda terdiam, langsung berteriak marah, menangis, atau mendengarkan. Apapun reaksi yang akan anda ambil, ingatlah prinsip komunikasi APA (Akui, Pahami, Arahkan). Lihatlah penyebab masalah dari sudut pandang anak, terkadang kita tidak dapat memahami sudut pandang dan alasan seorang anak melakukan tindakan konyol.
Kemungkinan reaksi saya
…………………………………………………………………………………………………………………………………
Kemungkinan kata-kata yang akan saya lontarkan
…………………………………………………………………………………………………………………………………</li>
	<li>Bayangkan solusi yang akan ambil (Arahkan). Anda dapat membayangkan bagaimana anda membimbing anak anda memahami bahaya ataupun dampak negatif dari perilaku yang baru saja ia buat  atau keputusan yang telah dijalankan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan balita ?
Anda dapat menerapkan langkah diatas pada balita yang sudah dapat diajak berkomunikasi. Namun pada balita memiliki keterbatasan. Ambang batas toleransi, kesabaran dan kemampuan fisik balita memiliki batas dan belum terbentuk dengan baik. Jadi, untuk mencegah krisis dengan balita, anda perlu memperhatikan aspek fisik mereka, anda perlu juga menggunakan kreativitas anda untuk membuat mereka sibuk, serta anda harus juga memperhatikan fisik diri anda sendiri. Fisik yang sehat dapat membantu anda menghadapi balita anda yang sedang bertingkah. Kurang tidur, lelah dan sakit merupakan penyebab utama kesabaran orangtua menjadi terkuras habis ketika menghadapi balita.
<p style="text-align: justify;">Pencegahan merupakan upaya terbaik bagi semua anggota keluarga. Tidak dapat dipungkiri permasalahan yang berkembang menjadi krisis, pastilah akan berdampak negatif bagi kehidupan keluarga. Namun tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Jikapun kita harus menghadapi krisis, menghadapi dengan tenang dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi semua anggota keluarga adalah jalan terbaik.</p>
<p style="text-align: justify;">Pananganan Krisis</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila krisis sudah terjadi, tidak apa. Terjadinya krisis biasanya akan diikuti dengan perbaikan-perbaikan di dalam keluarga. Jadi anda tidak perlu menjauhi krisis. Krisis merupakan bagian dari pendewasaan diri kita sendiri dan anak-anak kita. Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa membantu anda ketika menghadapi krisis dengan anak-anak anda.</p>

<ol style="text-align: justify;">
	<li>Tetaplah tenang dan berkepala dingin. Marah, sedih dll merupakan reaksi wajar ketika anda menghadapi perlaku anak yang tidak anda inginkan. Namun, reaksi emosi negatif ini tidak akan banyak membantu jika langsung dilontarkan kepada anak karena akan membuat anak anda menjauhi anda (defensif).</li>
	<li>Fokuslah pada masalah dan fakta bukan pada pribadi anak anda. Jika anda fokus pada pribadi anak anda misal memang kamu ini pemalas, dasar anak manja; akan terjadi perang besar dalam krisis ini. Anda tidak perlu menyalahkan pihak manapun, karena penyalahan pihak tertentu tidak akan membantu dalam mencari solusi yang terbaik.</li>
	<li>Berkomunikasilah. Krisis terjadi karena komunikasi anda dan anak anda sedang memburuk. Dalam berkomunikasi di masa krisis, sikap terbuka dan tidak menghakimi sangat penting. Banyaklah mendengar masalah dari sudut pandang anak. Kesalahan dalam bersikap akan menyebabkan anak anda merasa telah salah memilih orang sebagai teman bicara. Dampaknya, di waktu lain, ketika anak mengalami masalah, ia akan lebih memilih orang lain untuk membantunya. Lebih gawat lagi, jika anak anda salah memilih orang untuk membantunya. Gunakan teknik APA jika anak yang merasa “terganggu” dan I message jika anda merasa “terganggu” dengan sikap anakMisal pada kasus Ibu Siska. Pada kasus tersebut, Ria sedang dalam keadaan “terganggu” yaitu ia sedang menangis marah. Oleh sebab itu, ibu Siska menggunakan teknik APA.Akui perasaan dan pikiran anak anda. ”Ria sedang marah ke mama karena mama akan pergi ke Malang?”. Tanyakan penyebab kemarahannya, jika anak belum tahu apa penyebabnya maka anda perlu memberikan beberapa pilihan. Pada kasus Ria, ibu Siska sudah mengetahui penyebab Ria marah. ”Apakah Ria takut mama pulang malam ? terus tidak bisa bermain dengan Ria ?”Pahami logika berpikir anak anda. “Oh, jadi Ria lebih suka mama pulang tepat waktu dan bermain dengan Ria ? Mama mengerti, Ria kangen main sama mama lagi ya”.Arahkah anak agar anda dan anak mendapatkan solusi yang win-win. “Ok, bagaimana kalau begini. Mama janji mama akan pulang jam 6, memang agak terlambat 1 jam dari biasanya. Tapi karena perjalanan kerja mama kali ini agak jauh maka mama harus pulang terlambat hari ini. Setelah mama pulang, ijinkan mama mandi dulu kemudian kita akan makan bersama dan bermain sampai waktunya Ria tidur. Bagaimana ?”.Kasus lain, Alvin, 13 tahun mengalami mimpi buruk sebagai seorang remaja. Ia tidak naik kelas. Ibu Riska tidak dapat menyalahkan Alvin 100 % karena ia juga turut merasa bersalah atas kejadian ini. Pertengkaran ia dengan suaminya tampaknya menyebabkan Alvin mengalami penurunan semangat belajar. Jadi untuk membuka pembicaraan dengan Alvin agar Alvin mau mengemukakan pendapat dan perasaannya, ibu Riska menggunakan I Message untuk membantunya. “Alvin, mama merasa sedih atas kejadian di sekolah hari ini. Mama juga merasa bersalah karena kurang memperhatikan Alvin akhir-akhir ini. Maafkan mama ya, nak. Adakah yang bisa mama bantu untuk kamu ?”.</li>
	<li>Gunakan bantuan lain jika anda merasa tidak sanggup mengatasi krisis. Anda dapat meminta bantuan pada pihak lain yang anda anggap berkompeten misal guru sekolah, konselor sekolah, terapis, pemuka agama yang anda percayai atau orang lain yang dipercayai oleh anak anda. Terkadang, kita sebagai orangtua terlalu melekat dan emosi sehingga sulit untuk dapat bersikap mendengarkan dan tidak menghakimi anak kita. Jadi bantuan pihak ketiga akan sangat membantu kita untuk bersikap lebih bijaksana.</li>
	<li>Jauhkan atau ubah lingkungan yang menyebabkan anda dan anak mengalami krisis. Carilah penyebab krisis kemudian perbaiki.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemulihan dari Krisis</strong>
Setelah badai berlalu, anda perlu melakukan tahap terakhir. Sama seperti tubuh kita yang telah mengalami sakit kemudian mengalami pemulihan. Asupan makanan bergizi dan istirahat dibutuhkan untuk recovery yang cepat.
<p style="text-align: justify;">Pemulihan krisis perlu dilakukan agar keluarga anda dapat kembali berjalan di rel yang telah anda rencanakan. Berikut ini beberapa tips yang dapat anda terapkan dalam usaha memulihkan “luka” yang telah terjadi.</p>

<ol style="text-align: justify;">
	<li>Kembalilah pada rutinitas seperti biasa, sama seperti sebelum krisis terjadi. Hal ini akan membantu menstabilkan suasana rumah yang agak memanas.</li>
	<li>Tingkatkan komunikasi yang berkualitas dalam keluarga anda. Kembali menerapkan pelajaran-pelajaran yang telah dibahas di online class ini sebelumnya.</li>
	<li>Lakukan hal-hal yang agak berbeda dari biasanya sebagai upaya penyegaran suasana rumah anda. Misalnya : mengajak keluarga anda makan di restoran baru, berlibur bersama, mendekorasi ulang rumah anda, potong rambut ramai-ramai (sama-sama), memasak bersama dll.</li>
	<li>Refleksikan, pelajaran apa yang dapat anda dan keluarga anda dapatkan dari pengalaman krisis ini. Ingat krisis terjadi karena kita mengabaikan sinyal-sinyal yang ada sehingga masalah akhirnya menjadi membesar. Jika anak merasa kurang diperhatikan, maka saat ini anda perlu lebih memperhatikan anak. Jika anak merasa kosong tangki cintanya maka saat ini anda perlu lebih banyak waktu untuk mengisi tangki cintanya. Jika anak merasa kurang dipahami maka anda perlu mempelajari gaya komunikasi dan kepribadian anak sehingga ia dapat merasa dipahami.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Selamat ! Setelah anda melalui 3 P diatas maka anda telah naik kelas. Tahukah anda, bahwa kita akan terus menghadapi masalah yang sama terus menerus sampai anda telah menyelesaikan masalah itu. Jadi selesaikan masalah anda sehingga anda tidak perlu menghadapinya terus menerus.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda pernah mengalami krisis dengan pasangan? Bagaimana mengatasinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Materi minggu depan akan membahas hal tersebut. Inilah materi penting yang perlu dikuasai karena pasangan kita adalah partner kita dalam menjalankan kehidupan ini.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-32-penanganan-krisis-dengan-anak-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 31 : Syarat penting suatu ritual keluarga</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-31-syarat-penting-suatu-ritual-keluarga</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-31-syarat-penting-suatu-ritual-keluarga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 30 s/d 31 - Pondasi Utama Keempat membangun “Keluarga Impian” : Menciptakan ritual dan atau tradisi keluarga yang bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1578</guid>
		<description><![CDATA[Halo para orangtua Indonesia, jumpa lagi di program Online Class Sekolah Orangtua. Kali ini kita akan membahas materi penting tentang bagaimana membuat sebuah ritual atau tradisi menjadi benar-benar bermakna dan memiliki kesan mendalam.



	Membuat seseorang merasa spesial dengan perayaan / adanya kejadian tersebut. Dengan ritual atau tradisi tertentu seseorang dapat mengidentifikasi keunikannya atau kekuatannya sehingga makin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Halo para orangtua Indonesia, jumpa lagi di program Online Class Sekolah Orangtua. Kali ini kita akan membahas materi penting tentang bagaimana membuat sebuah ritual atau tradisi menjadi benar-benar bermakna dan memiliki kesan mendalam.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2064" title="42-21255264" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-21255264-300x200.jpg" alt="42-21255264" width="300" height="200" /></p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>Membuat seseorang merasa spesial dengan perayaan / adanya kejadian tersebut. Dengan ritual atau tradisi tertentu seseorang dapat mengidentifikasi keunikannya atau kekuatannya sehingga makin menyadari keberadaannya sebagai individu yang diterima dan dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.  Contohnya tiap saat membacakan cerita untuk anak menjelang tidur malam sang anak merasakan bahwa ia penting karena papa atau mamanya benar-benar berfokus pada dirinya. Anak akan menyadari cepat atau lambat bahwa ia benar-benar penting bagi papa atau mamanya karena papa / mamanya meninggalkan semua aktivitasnya dan membacakan cerita untuknya. Ikatan emosi antara anak dan orangtua juga makin kuat</li>
	<li>Terjadi pada tempat yang khusus dan spesial atau bernilai religius. Karena tradisi atau ritual dimaksudkan untuk merayakan sesuatu yang spesial maka sebaiknya terjadi di satu tempat yang dekorasinya lain dari yang kita alami sehari-hari. Kita bisa menambahkan hiasan di dinding sambil memutar musik khusus misalnya. Atau menambahkan cahaya tertentu dengan lampu khusus atau mungkin lilin ditambah dengan aroma terapi tertentu.Semua hal yang disebutkan di atas akan memperkuat kesan yang tertangkap oleh pikiran bawah sadar. Anak-anak dan kita akan memiliki kesan mendalam. Ini seperti saat ingatan kita melayang ke masa tertentu ketika sebuah lagu tertentu kita dengar. Dan jika hal itu diulang terus maka kesannya akan semakin kuat. Bagi anak-anak kita hal tersebut akan membantunya membentuk identitas diri yang semakin kuat.</li>
	<li>Ada sebuah unsur transisi. Bagian ritual yang ini membuat seseorang merasa mengalami suatu transisi. Seperti misalnya cipratan air pada seorang anak yang dibaptis, anak yang ulang tahun diberi hadiah khusus yang menandakan pertambahan umurnya, atau adanya hal tertentu yang berupa simbol yang menandakan suatu perubahan.Pada masyarakat kita ada banyak ritual transisi seperti pada saat bayi baru lahir lepas pusar. Ada juga peringatan saat sang bayi berusia satu bulan. Lalu saat bayi tersebut mulai menyentuh tanah ada peringatan turun tanah. Ada juga upacara penggundulan rambut bayi.

Di masyarakat Bali ada upacara potong gigi yang menandakan seseorang sudah memasuki masa dewasa. Atau ada juga perayaan ulang tahun ke 17 pada seorang anak gadis sebagai pertanda memasuki masa dewasa.</li>
	<li>Ada sebuah hak khusus  yang melekat pada seseorang yang menjalani ritual atau tradisi tersebut. Misalnya seorang anak yang gadis yang berulang tahun ke 17 dapat memiliki ruang pribadi di mana dia bisa melakukan apapun tanpa diganggu anggota keluarga yang lain. Dengan begitu ia merasa memiliki sebuah tanggung jawab tertentu dan merasa dihargai sebagai orang dewasa juga.Hal ini akan membuat seorang anak merasa sangat dihargai dan konsep dirinya akan meningkat. Mereka akan mengembangkan otonomi diri yang sangat penting untuk masa dewasanya. Otonomi diri menyangkut keberanian untuk mengambil inisiatif dan membuat keputusan.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nah kita telah selesai membahas bagaiman membuat tradisi dan ritual keluarga yang meninggalkan kesan mendalam. Sebenarnya hal itu bukan hanya meninggalkan kesan mendalam namun juga membuat anggota keluarga merasa sebagai satu kesatuan. Semua itu menciptakan perasaan aman, dihargai, dicintai dan mengembangkan otonomi seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi dan ritual keluarga yang diulang terus akan membuat nilai-nilai positifnya tertanam pada pikiran bawah sadar para pelakunya. Dan ini akan menciptakan sebuah pengalaman hidup yang mengkristal menjadi nilai-nilai dan keyakinan hidup positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang cobalah ingat satu atau dua pengalaman pribadi kita tentang tradisi atau ritual keluarga yang pernah kita jalani selama kita dibesarkan oleh orangtua kita.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2065" title="42-21279988" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-21279988-200x300.jpg" alt="42-21279988" width="200" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tuliskan di sini :</p>

Tradisi atau ritual keluarga yang pernah kita jalani sewaktu dibesarkan
………………………………………………………………….…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kesan atau perasaan yang timbul saat menjalani tradisi atau ritual tersebut ………………………………………………………………….…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Nilai hidup atau keyakinan apa yang terbentuk dengan menjalani tradisi atau ritual keluarga tersebut ………………………………………………………………….…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
<p style="text-align: justify;">Nah di materi sebelum ini Bapak Ibu telah diminta membuat dan menciptakan sebuah ritual atau tradisi keluarga. Sekarang tugas Bapak Ibu sekalian untuk memeriksa apakah tradisi dan ritual itu memiliki keempat sifat-sifat di atas. Jika belum tambahkan sesuatu yang membuat keempat hal di atas bisa dirasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini juga berlaku untuk tradisi dan ritual yang telah dijalankan bertahun-tahun sebelum ini. coba periksa apakah ritual atau tradisi itu memiliki keempat sifat seperti yang dibahas di atas. Jika belum maka kegiatan itu hanya menjadi sebuah rutinitas belaka yang tidak menimbulkan kesan mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu diingat tidak harus keempat-empat sifat di atas muncul bersamaan dalam sebuah tradisi atau ritual. Bisa jadi hanya muncul dua atau tiga saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Baiklah kita telah melangkah semakin jauh. Pertanyaan penting : apakah Bapak Ibu telah menerapkan semua hal yang telah kita bahas selama ini? Jika belum maka ini hanya akan menjadi pengetahuan saja. Dan pengetahuan hanyalah sebuah potensi terpendam. Ambil waktu sejenak dan terapkan satu atau beberapa prinsip penting yang telah Anda pelajari. Di minggu depan kita akan belajar bagaimana menangani krisis-krisis dalam keluarga. Apakah Anda pernah merasakan ketegangan komunikasi yang muncul diantara anak Anda atau mungkin antara diri kita dengan pasangan? Ini adalah sebuah ketrampilan penting untuk dikuasai sehingga kita bisa mengatasi hambatan-hambatan yang tidak perlu dalam mengarungi kehidupan berkeluarga. Pastikan diri Anda bergabung bersama kami.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-31-syarat-penting-suatu-ritual-keluarga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 30 : Menciptakan ritual keluarga</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-30-menciptakan-ritual-keluarga</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-30-menciptakan-ritual-keluarga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 30 s/d 31 - Pondasi Utama Keempat membangun “Keluarga Impian” : Menciptakan ritual dan atau tradisi keluarga yang bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1576</guid>
		<description><![CDATA[Saat kita kecil apakah kita pernah menantikan sebuah acara bersama keluarga kita? Seperti misalnya perayaan suatu hari bersama keluarga besar disertai pesta sampai malam hari mungkin? Atau liburan bersama keluarga? Atau mungkin kumpul bersama keluarga di rumah kakek atau nenek di hari raya keagamaan tertentu sambil bergurau dan makan-makan?

Ya … suatu peristiwa yang direncanakan jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat kita kecil apakah kita pernah menantikan sebuah acara bersama keluarga kita? Seperti misalnya perayaan suatu hari bersama keluarga besar disertai pesta sampai malam hari mungkin? Atau liburan bersama keluarga? Atau mungkin kumpul bersama keluarga di rumah kakek atau nenek di hari raya keagamaan tertentu sambil bergurau dan makan-makan?</p>
<img src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-19745233.jpg" alt="42-19745233" title="42-19745233" width="400" height="267" class="aligncenter size-full wp-image-2061" />
<p style="text-align: justify;">Ya … suatu peristiwa yang direncanakan jauh sebelumnya dan menjadi tradisi bagi keluarga kita disertai dengan ritual tertentu saat menjalaninya. Suatu peristiwa dimana kita menyadari bahwa kita sebagai bagian dari sebuah keluarga yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Suatu peristiwa yang menjadi jangkar bagi terbentuknya nilai hidup dan keyakinan yang kita miliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya itulah yang disebut tradisi dan ritual keluarga. Tradisi dan ritual keluarga adalah sebuah peristiwa yang dilakukan berulangkali dalam satu periode tertentu, direncanakan dengan tujuan tertentu dan memiliki makna khusus. Dan kita memiliki komitmen untuk melakukannya tak peduli itu nyaman atau tidak.  Kekuatan sebuah ritual dan tradisi yang melatarbelakanginya muncul bersamaan dengan pengulangan yang terjadi. Jika tidak seperti itu maka kegiatan itu hanyalah sebuah rutinitas belaka bukan ritual keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya masih kecil sebuah tradisi yang saya tunggu adalah saat merayakan ulang tahun anggota keluarga. Pada saat tersebut mama akan memasak dan membuat nasi tumpeng. Setelah itu kami semua duduk di tikar mengelilingi nasi tumpeng. Ritualnya sebelum makan kami bercanda dan menceritakan pengalaman lucu-lucu. Setelah itu berdoa dan makan. Kami semua harus duduk sampai selesai. Tak ada yang boleh bangkit duluan sebelum makan tumpeng bersama selesai. Setelah ditutup dengan doa barulah kami semua bangkit berdiri dan membereskan semuanya. Kebersamaan itu sangat indah untuk dikenang dan melekat kuat. Kami melakukannya 6 kali dalam setahun (anggota keluarga saya ada 6 yaitu papa, mama dan 4 orang anak) bertahun-tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang saya telah berkeluarga dan kami punya tradisi khusus pergi ke pantai Pasir Putih di daerah Situbondo, Jawa Timur untuk merayakan suatu pencapaian yang diraih anggota keluarga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat anak-anak saya berusia di bawah 3 tahun saya dan istri selalu bergantian membacakan dongeng sebelum tidur. Ini adalah ritual sebelum tidur.  Dan saat sekarang ini kami selalu berkumpul bersama sebelum tidur bercerita tentang pengalaman seharian sambil memainkan permainan keluarga seperti halma, ular tangga, kartu atau apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ritual lain yang perlu dilakukan adalah saling mengungkapkan apa yang dirasakan. Ritual ini bisa dilakukan sebelum makan pagi bersama atau di waktu lain yang dipandang tepat dimana seluruh anggota keluarga berkumpul bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Caranya adalah setiap anggota keluarga mengungkapkan satu perasaan negatifnya (kalau ada) dan kemudian memaknai ulang peristiwa tersebut dengan cara menarik pelajaran penting di balik emosi tersebut. Kemudian diikuti dengan mengungkapkan 2 perasaan positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya, ayah ibu dan 3 orang anak berkumpul bersama :</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah : Halo semua, hari ini Ayah sedikit agak cemas (satu emosi negatif) karena pekerjaan kemarin   belum selesai. Ayah pikir ini adalah salah satu tanda untuk bekerja lebih baik lagi (pemaknaan atas emosi negatif). Dan Ayah juga merasa bahagia (emosi positif pertama) karena bisa bangun pagi ini dengan menikmati kecerahan wajah kalian semua. Selain itu Ayah merasa bersemangat (emosi positif kedua) karena tugas-tugas Ayah hampir selesai. Sekarang giliran ……..(tunjuk siapa saja)</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2059" title="so" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/so.jpg" alt="so" width="500" /></p>
<p style="text-align: justify;">Semua tradisi dan  ritual keluarga yang kita lakukan ini akan melekat kuat dalam ingatan anak-anak dan membuat mereka memiliki perasaan aman, dicintai, dihargai secara berkesinambungan dalam dunia yang sekarang ini dipenuhi dengan segala sesuatu yang serba instan dan serba cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi dan ritual keluarga akan menciptakan ritme tertentu dalam sebuah keluarga. Dan ini menjadi pembeda antara keluarga satu dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sebuah tradisi dan ritual yang bermakna seorang anak bisa jadi kesulitan membentuk bagian-bagian citra dirinya. Ia akhirnya mengikuti ritual atau tradisi dari berbagai sumber yang bisa jadi kontradiksi satu sama lain atau tak diketahui maknanya sehingga akhirnya menjadi rutinitas belaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi dan ritual yang bagus akan membantu seorang anak tumbuh dengan identitas diri yang kuat sehingga kelak ia tak akan mudah goyah sebagai individu.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ilmuwan perilaku melakukan riset mendalam tentang pentingnya tradisi dan ritual keluarga. Mereka menyatakan bahwa tanpa hal tersebut sebuah keluarga akan kekurangan sesuatu. Anak-anak dalam keluarga tanpa tradisi dan ritual yang sehat akan lebih mudah mengalami gangguan perilaku dan ini akan membuat orangtua mengalami konflik berkepanjangan yang pada akhirnya menciptakan ketidakstabilan dalam keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian para ilmuwan tersebut juga mengatakan bahwa tradisi dan ritual yang sehat dalam sebuah keluarga akan meningkatkan perubahan positif dalam tubuh fisik dalam bentuk kekebalan tubuh, tingkat stress yang kecil dan mengurangi tekanan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah sekarang giliran Anda melakukan sesuatu perubahan. Duduklah bersama pasangan dan pikirkan tradisi apa yang perlu dilakukan dalam keluarga Anda. Berikut adalah beberapa contoh yang mungkin bisa dipakai atau bisa membangkitkan ide lainnya:</p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>tradisi apa yang akan dilakukan bila salah satu anggota keluarga kita mencapai prestasi tertentu</li>
	<li>tradisi apa yang akan dilakukan apabila salah satu anggota keluarga mengalami kegagalan</li>
	<li>tradisi apa yang akan dilakukan untuk merayakan ulang tahun anggota keluarga</li>
	<li>tradisi apa yang akan dilakukan saat liburan panjang sekolah</li>
	<li>tradisi apa yang akan dilakukan saat pergantian tahun</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">dan kemudian tentukan juga ritual-ritual apa yang akan dijalankan dalam keluarga kita? Kembali berikut adalah beberapa contoh yang bisa diambil atau mungkin bisa membangkitkan ide lain :</p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>ritual sebelum tidur malam (gosok gigi bersama dilanjutkan dengan dongeng atau cerita pengalaman seharian dilanjutkan dengan doa bersama lalu saling berpelukan dan berciuman sambil ucapakan selama tidur)</li>
	<li>ritual setelah bangun pagi (senyum satu sama lain, sambil ucapkan selamat pagi dan kemudian mengucapkan harapan akan hari tersebut dan ditutup dengan doa)</li>
	<li>ritual sebelum makan (cerita satu sama lain tentang hal positif, mengucapkan terima kasih pada yang memasak, doa pembuka dan makan setelah itu ditutup doa dan meletakkan piring kotor masing-masing ke tempat cucian piring)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">ingatlah bahwa tradisi dan ritual keluarga adalah sebuah cara yang ampuh untuk membuat setiap anggota keluarga merasakan kebersamaan, menyatakan cinta masing-masing dan merasakan kehangatan sebuah keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Baiklah para orangtua Indonesia, sekarang Anda telah tahu salah satu unsur penting dalam membangun sebuah keluarga yang sehat. Hal yang terpenting dari ini adalah penerapannya dalam kehidupan kita. Minggu berikutnya adalah minggu yang akan sangat penting sekali. Karena kita akan membahas syarat penting sebuah ritual keluarga. Sampai jumpa minggu depan!</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-30-menciptakan-ritual-keluarga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 29 : Bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat serta membela dan setia pada anggota keluarga kita beserta dengan yang terlibat bersama dengan keluarga kita</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-29-bertanggung-jawab-terhadap-pilihan-yang-dibuat-serta-membela-dan-setia-pada-anggota-keluarga-kita-beserta-dengan-yang-terlibat-bersama-dengan-keluarga-kita</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-29-bertanggung-jawab-terhadap-pilihan-yang-dibuat-serta-membela-dan-setia-pada-anggota-keluarga-kita-beserta-dengan-yang-terlibat-bersama-dengan-keluarga-kita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 25 s/d 29 - Pondasi Utama Ketiga membangun “Keluarga Impian” : Ciptakan ritme yang dapat diprediksi dan sehat dalam kehidupan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1574</guid>
		<description><![CDATA[Halo para orangtua Indonesia, jumpa lagi dalam materi Online Class Sekolah Orangtua. Minggu lalu kita telah membahas bagaimana menentukan aturan main dalam sebuah keluarga. Aturan main akan membuat ritme dalam keluarga terjaga karena setiap anggota tahu apa yang akan dan harusnya terjadi.
Poin berikutnya yang penting setelah menentukan aturan main adalah bertanggung jawab terhadap setiap tindakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Halo para orangtua Indonesia, jumpa lagi dalam materi Online Class Sekolah Orangtua. Minggu lalu kita telah membahas bagaimana menentukan aturan main dalam sebuah keluarga. Aturan main akan membuat ritme dalam keluarga terjaga karena setiap anggota tahu apa yang akan dan harusnya terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Poin berikutnya yang penting setelah menentukan aturan main adalah bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang kita ambil. Sekedar mengingatkan saja setiap tindakan yang kita ambil memengaruhi setiap anggota keluarga yang hidup bersama kita. Setiap pilihan tindakan atau pemikiran yang kita ambil memberi warna pada hidup setiap anggota keluarga yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertanggung jawab pada pilihan yang kita ambil berarti secara tidak langsung juga berani menanyakan pada diri sendiri pertanyaan seperti :</p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>Apakah ada perilaku tertentu yang harus saya perbaiki?</li>
	<li>Apakah saya mengeluarkan uang lebih banyak dari yang saya mampu peroleh? Apakah ini bisa membahayakan anggota keluarga yang lain?</li>
	<li>Apakah yang saya lakukan membahayakan keselamatan pribadi saya?</li>
	<li>Apakah saya melakukan sesuatu dalam bisnis atau karier yang seharusnya tidak cocok dengan prinsip hidup yang saya yakini?</li>
	<li>Apakah saya memerlakukan anggota keluarga dengan tidak adil ?</li>
	<li>Apakah saya memegang teguh janji perkawinan saya dan setia pada pasangan ? Apakah saya mempertimbangkan efek dari perilaku saya terhadap kehidupan perkawinan saya?</li>
	<li>Apakah saya lebih memrioritaskan pekerjaan daripada keluarga saya?</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jujur akan membuat kita jadi menyadari mana yang penting untuk segera diperbaiki dalam hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak juga perlu dibiasakan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tentunya kita harus mengkomunikasikannya dengan bahasa yang sesuai dengan usia mereka. Jika salah seorang anggota keluarga sakit dan anak minta jalan-jalan ke mall maka kita bisa mengatakan bahwa kalau kita melakukannya maka nanti si sakit tak ada yang menjaga. Menggunakan prinsip komunikasi yang telah dijelaskan di minggu-minggu sebelumnya akan membuat si anak jadi mengerti bahwa tindakannya bisa merugikan atau memengaruhi anggota keluarga yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu sikap tersebut juga mengajarkan solidaritas dan kesetiaan pada sesama anggota keluarga. Teman bisa datang dan pergi namun keluarga akan tetap menjadi keluarga apapun yang terjadi. Karena itu kesetiaan dan solidaritas keluarga perlu dibangun sejak dini dalam keluarga kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang lain misalnya anak kita bersama dengan timnya berlomba di arena pertandingan. Pertandingan bulutangkis misalnya. Maka mau tak mau kita harus membela timnya. Kita harus menjadi supporter timnya apapun yang terjadi.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2056" title="42-21221278" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-21221278-300x300.jpg" alt="42-21221278" width="300" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">Satu kisah menarik terjadi saat tahun 1999 saya membantu memberikan pemahaman baru pada seorang ibu yang anak gadisnya hamil sebelum menikah. Sang ibu berusaha menerima keadaan namun sungguh sulit baginya untuk mencari hikmah positif dari kejadian tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali bertemu akhirnya si ibu bisa menerima keadaan dan tetap mengakui dan menerima anaknya sebagai salah satu bentuk  kesetiaan pada keluarganya.  Banyak ibu / ayah lain menghindar dan menutupi kejadian seperti tersebut di atas atau bahkan mengusir dan tidak mau mengakui lagi sang anak karena telah mencoreng nama baik keluarga. Namun sang ibu ini akhirnya bisa mengatakan dengan ketulusan, “Ya dia memang telah membuat sebuah pilihan yang kurang tepat dan saya berusaha menuntunnya kembali ke jalan yang lebih baik demi masa depannya” jika ia ditanya apa yang terjadi dengan putrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jelas apapun yang terjadi pada anggota keluarga kita maka kesetiaan harus tetap dijaga. Hal ini akan membuat setiap anggota keluarga merasa terlindungi dan aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali perilaku negatif dari salah satu anggota keluarga adalah demi mencari perasaan aman yang ingin didapatkan dari anggota keluarga yang lain – biasanya dalam hal ini adalah figur otoritas dalam keluarga. Dengan melakukan sesuatu seseorang ingin membuktikan apakah anggota keluarga yang lain masih peduli padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal-hal negatif seperti di atas tak akan terjadi jika sejak awal perasaan aman, dicintai, dihargai, disetujui dan otonomi pribadi telah dikembangkan dalam sebuah keluarga yang saling menjaga satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana seandainya jika irama dalam keluarga kita adalah monoton – tak pernah berganti nada. Yaa … seperti keluarga yang ayahnya pekerja keras dan lebih suka lembur di kantor daripada menghabiskan waktu bersama keluarga, atau ibu yang lebih suka berkarier dari pada mengurusi pernak pernik seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau bahkan pasangan yang memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Seperti terjerumus dalam narkoba, perselingkuhan, suka main pukul atau bahkan suka berjudi. Apa yang harusnya dilakukan seandainya pasangan kita tak bisa mendukung? Ya … idealnya memang kedua orangtua saling mendukung. Namun jika salah satu tak bisa mendukung maka janganlah menunggu sampai pasangan kita siap. Atau bahkan mungkin berusaha mengubah pasangan terlebih dahulu untuk kemudian sama-sama melakukan perubahan. Hal ini tak akan pernah berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ibu yang suaminya sangat keras, pemarah dan suka melakukan kekerasan fisik pada dirinya dan anaknya pernah berada dalam ruang konsultasi saya. Ia berharap bisa mengubah suaminya terlebih dahulu agar bisa mendukung perbaikan kualitas keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sesi konsultasi tersebut macet dan tak kemana-mana. Mengapa ? Karena kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri – bukan orang lain! Saat si ibu tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya-lah yang perlu berubah lebih dahulu maka kemajuan tak akan dicapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika memang keluarga kita memiliki nilai penting maka harus ada yang memulai proses perubahan tanpa mengharap pasangan ikut berubah. Cepat atau lambat pasangan kita akan menyadari bahwa ia tertinggal dalam perkembangan mental. Ketulusan hati dan cinta kasih akan mengubah situasi. Kita bisa menjadi inspirator bagi pasangan kita untuk berubah. Seperti lokomotif yang menjadi pelopor bagi gerbong-gerbong di belakangnya. Cepat atau lambat setiap gerbong akan mengikuti irama yang diciptakan lokomotif.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Apakah yang paling ditunggu-tunggu oleh anggota keluarga kita? Bisakah kita menciptakan suatu momen sehingga kehidupan keluarga kita menjadi lebih bergairah lagi karena ada sesuatu yang sangat menarik untuk dinantikan? Bisakah kita menciptakan energi positif  melalui keluarga kita? Bagaimana caranya? Kita akan membahasnya di materi minggu depan.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-29-bertanggung-jawab-terhadap-pilihan-yang-dibuat-serta-membela-dan-setia-pada-anggota-keluarga-kita-beserta-dengan-yang-terlibat-bersama-dengan-keluarga-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 28 : Menanamkan dan menumbuhkan standar perilaku dalam keluarga</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-28-menanamkan-dan-menumbuhkan-standar-perilaku-dalam-keluarga</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-28-menanamkan-dan-menumbuhkan-standar-perilaku-dalam-keluarga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 25 s/d 29 - Pondasi Utama Ketiga membangun “Keluarga Impian” : Ciptakan ritme yang dapat diprediksi dan sehat dalam kehidupan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1572</guid>
		<description><![CDATA[Halo Para Orangtua Pembelajar. Salam jumpa kembali bersama kami melalui pembelajaran online Sekolah Orangtua. Tidak terasa, saat ini kita telah memasuki minggu ke 28.
Kita telah membahas mengenai nilai keluarga yang berimbas pada budaya keluarga, ritme keluarga yang akan berdampak pada rutinitas keluarga di minggu-minggu sebelumnya. Kali ini, kita akan membahas mengenai standar perilaku yang perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Halo Para Orangtua Pembelajar. Salam jumpa kembali bersama kami melalui pembelajaran online Sekolah Orangtua. Tidak terasa, saat ini kita telah memasuki minggu ke 28.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita telah membahas mengenai nilai keluarga yang berimbas pada budaya keluarga, ritme keluarga yang akan berdampak pada rutinitas keluarga di minggu-minggu sebelumnya. Kali ini, kita akan membahas mengenai standar perilaku yang perlu ditanamkan dalam sebuah keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkah anda berpikir : mengapa kita tidak boleh bertamu tengah malam ? Sangat jarang sekali, jika tidak mendesak, orang akan bertamu di rumah orang lain pada tengah malam. Apakah pernah ada sebuah musyawarah bahwa bertamu harus pada jam-jam tertentu ? Tidak, tapi kita sama-sama tahu bahwa bertamu pada tengah malam akan mengganggu sang empunya rumah. Ada semacam harapan dalam bertingkah laku dalam masyarakat yang perlu ditaati bersama sehingga tercipta keharmonisan. Harapan bertingkah laku ini dapat diistilahkan dengan standar perilaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah standar perilaku itu ?</p>
<p style="text-align: justify;">Standar perilaku adalah semacam aturan bertingkah laku yang harus dipahami, disepakati, dan diataati oleh tiap anggota keluarga sehingga tercipta sebuah atsmosfer saling mempercayai dan suasana “tahu sama tahu”. Standar ini tersusun dari serangkaian aturan yang tidak boleh diganggu gugat, dan tidak dapat didiskusikan. Jadi merupakan sebuah aturan main dalam berperilaku di rumah.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2054" title="42-23887184" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-23887184-300x200.jpg" alt="42-23887184" width="300" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;">Standar perilaku ini juga berkaitan dengan nilai keluarga yang telah dibahas di minggu ke 26. Nilai-nilai keluarga perlu diterjemahkan menjadi sebuah standar perilaku berupa aturan dan tata cara dalam melaksanakannya. Jadi ketika sebuah keluarga menghargai nilai kejujuran maka dalam keluarga itu akan tercipta sebuah standar perilaku yang mengarahkan tiap anggota keluarga untuk mengamalkan kejujuran. Jika sebuah keluarga memiliki nilai kebersamaan maka akan ada ritme yang bertujuan untuk menciptakan sebuah suasana kekompakkan dalam keluarga tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keluarga saya, menghormati orang yang lebih tua merupakan nilai yang penting dalam proses sosialisasi keluarga. Bagaimana orangtua saya menerjemahkan nilai itu pada seorang anak kecil ? Kami dibiasakan untuk menyapa orang yang lebih tua ketika bertemu mereka dan berpamitan ketika hendak pulang. Apakah saya menyukai ? Tidak, tapi karena ini adalah standar perilaku yang diharapkan oleh orangtua saya maka saya dibiasakan untuk melakukannya. Akhirnya, saya menjadi terbiasa dengan sendirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa membentuk standar perilaku ini penting ?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada 2 manfaat yang dapat anda peroleh dengan membentuk standar perilaku ini yaitu bagi pribadi tiap anggota keluarga dan bagi suasana dalam keluarga itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Standar perilaku akan membantu anak-anak kita tidak mengalami kebingungan dalam bertingkah laku dan mempermudah menginternalisasi nilai-nilai keluarga dalam bawah sadar anak. Anak menjadi tahu bagaimana menjalankan harapan kita sebagai orangtua. Ia tidak akan mudah mengalami intimidasi oleh pihak lain, misalnya :”Lo masak gak nyapa tante ya ?” atau “Masa tidak permisi dulu kalau mau minta minum sama tante ?”. Dan yang terpenting, anak bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu merasa canggung karena tidak tahu cara melakukan sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Manfaat kedua, standar perilaku akan berdampak pada situasi yang diciptakan dalam rumah karena tiap anggota keluarga tahu mengenai perilaku standar yang harus dijalankan dalam keluarga maka gesekan antar anggota keluarga akan minimal sekali. Dalam keluarga kami, kami sama—sama tahu bahwa jika meminjam barang milik salah satu anggota keluarga yang lain maka harus berdasarkan ijin dari si pemilik barang tersebut. So, dengan demikian, antar saudara tidak akan saling mencurigai dan terhindar dari pertengkaran karena masalah sepele.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kelas Taman kanak-kanak yang pernah saya ajar, para siswa tahu bahwa menggunakan mainan sekolah harus antri. Jika salah seorang teman sedang memainkannya maka yang lain harus menunggu sampai teman tersebut selesai memainkannya. Bahkan, anak yang menunggu untuk bermain terkadang berkata yang sedang memainkannya,”Nanti kalau sudah selesai, panggil aku ya.“ Anak TK sudah bisa indent seperti itu. Standar perilaku yang diharapkan di kelas saya ini dapat meminimalkan pertengkaran perebutan mainan antar siswa lho. Jadi saya bisa memfokuskan diri saya untuk mengajarkan siswa pada hal lain.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2053" title="42-15523188" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-15523188-300x200.jpg" alt="42-15523188" width="300" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kapan saja standar perilaku dalam keluarga perlu ditegakkan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Standar perilaku ini seringkali dianggap sebagai masalah sepele sehingga jarang sekali diajarkan dan diterapkan di sebuah keluarga. Keluarga berjalan apa adanya dan tiap anggota diharapkan tahu bagaimana berperilaku yang pantas di keluarga. Tentu saja hal ini akan sulit terjadi jika tidak pernah ada kesepakatan bersama mengenai apa yang harus dilakukan di dalam keluarga ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, perlu dibuat suatu kesepakatan yang diketahui oleh setiap anggota keluarga. Misalnya : jika didalam keluarga anda seringkali terjadi pertengkaran karena barang-barang hilang dan tidak kembali pada tempatnya maka anda perlu menegaskan pada tiap anggota keluarga bahwa jika sudah meminjam atau mengambil barang milik orang lain harus berdasarkan ijin yang bersangkutan serta harus segera dikembalikan jika sudah selesai. Jika yang bersangkutan tidak mengijinkan, maka barang tidak boleh diambil atau dipinjam.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana menerapkan standar perilaku dalam keluarga ?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena standar perilaku sebenarnya merupakan kebiasaan khas yang ada dalam keluarga anda maka perlu diterapkan sejak anak-anak kecil. Anda dapat menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari misalnya sehabis makan, piring harus dikembalikan ke dapur. Setelah bermain, mainan harus dikembalikan ke tempatnya. Tentu saja, penerapannya perlu dilakukan dengan fun sehingga anak akan merasa hal itu bukanlah sebuah kewajiban tapi lebih merupakan permainan. Misalnya : yuk, bantu mama merapikan meja makan. Tolong dibawa ke dapur ya piringnya. Atau menggunakan nyanyian untuk memotivasi anak membereskan mainan “Yuk kita bersih-bersih. Bersih-bersih. Bersih-bersih. Yuk, kita bersih-bersih. Bersama-sama.” (nada lagu London Bridge)</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana jika anak sudah lebih besar ?</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, ini lebih mudah lagi. Ajak anak berdiskusi mengenai sebuah kebiasaan baik yang ingin dibentuk dikeluarga. Misalnya : kita ingin agar rumah selalu bersih dengan barang-barang berada di tempatnya. Tanyakan pada anak,”Mama merasa rumah kita ini kurang rapi. Ada usul mengenai apa yang harus kita lakukan supaya barang-barang selalu ada ditempatnya ? “. Biarkan anak-anak mengajukan usulnya dan anda tampung. Bahas pula konsekuensi jika barang-barang tidak ada pada tempatnya. Jika semua ide berasal dari anak, anak akan lebih mudah untuk menjalankannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat, adanya standar perilaku ini akan memudahkan tugas anda sebagai orangtua. Anda tidak perlu lagi dipusingkan dengan masalah sepele.</p>
<p style="text-align: justify;">Bentuklah sebuah standar perilaku di keluarga anda sehingga anda dapat memfokuskan perhatian dan energi anda pada hal lain yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Standar perilaku berbeda antar keluarga, tergantung pada nilai hidup yang mereka pegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya : apakah di keluarga Anda standar perilaku ini dikomunikasikan dengan baik pada setiap anggota keluarga?</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Satu bagian tentang bagaimana menciptakan ritme dalam sebuah keluarga telah selesai kita bahas. Minggu berikutnya kita akan membahas bagaimana sebuah pilihan bisa memengaruhi anggota keluarga yang lain dan bagaimana membangun kesetiaan antar anggota keluarga.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-28-menanamkan-dan-menumbuhkan-standar-perilaku-dalam-keluarga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 27 : Membantu anggota keluarga memperkuat “Identitas Keluarga”</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-27-membantu-anggota-keluarga-memperkuat-%e2%80%9cidentitas-keluarga%e2%80%9d</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-27-membantu-anggota-keluarga-memperkuat-%e2%80%9cidentitas-keluarga%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 25 s/d 29 - Pondasi Utama Ketiga membangun “Keluarga Impian” : Ciptakan ritme yang dapat diprediksi dan sehat dalam kehidupan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Halo para orangtua Indonesia, bagaimana hasil penerapan materi minggu lalu tentang membangun pondasi bagi ‘family culture’ Anda? Apakah perubahan positif yang nampak? Jika Anda belum melakukannya maka ada baiknya mencari waktu dengan pasangan untuk membicarakannya. Beberapa orangtua memiliki rasa enggan untuk memulai hal tersebut karena menyangkut perasaan aman dalam dirinya sendiri. Kita merasa enggan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Halo para orangtua Indonesia, bagaimana hasil penerapan materi minggu lalu tentang membangun pondasi bagi ‘family culture’ Anda? Apakah perubahan positif yang nampak? Jika Anda belum melakukannya maka ada baiknya mencari waktu dengan pasangan untuk membicarakannya. Beberapa orangtua memiliki rasa enggan untuk memulai hal tersebut karena menyangkut perasaan aman dalam dirinya sendiri. Kita merasa enggan untuk berubah karena itu melibatkan kita juga. Kita merasa telah nyaman dengan apa yang ada pada diri kita walau hal tersebut kita sadari kurang baik. Namun keputusan akhir tetap di tangan masing-masing. Coba pikirkan apa benefit dari tidak berubah dan apa benefit dari perubahan? Lalu pikirkan juga apa efek negatif dari berubah dan tidak berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah sekarang kita akan membahas bagaimana sebuah identitas keluarga. Identitas keluarga bisa muncul setelah sebuah ‘pondasi nilai’ terbentuk. Identitas keluarga akan menciptakan rasa memiliki dan kebersamaan yang kuat diantara anggota keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2041" title="42-23244250" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-23244250.jpg" alt="42-23244250" width="400" height="267" /></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu caranya adalah dengan membuat pohon keluarga. Seringkali cerita hebat tentang anggota keluarga besar terlupakan. Saat seorang anak tahu bahwa dalam keluarga besarnya terdapat cerita-cerita hebat tentang bagaimana menghadapi hidup dan mencapai impian maka ia akan menjadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Disamping itu juga menimbulkan perasaan bangga dalam diri anak lahir dalam suatu keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana jika seandainya leluhur kita tak memiliki cerita hebat dan bukan orang terkenal? Satu hal penting disini cerita hebat tak selalu identik dengan orang terkenal. Fokuskan pada cerita hebat dari leluhur yang dilakukan untuk keluarganya sendiri. Seburuk-buruknya seseorang pasti memiliki sisi baik untuk diceritakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ambillah satu waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan membuat pohon keluarga. Ceritakan satu persatu sepak terjang para leluhur kita pada anak-anak. Ikatan keluarga yang kuat dan perasaan bangga akan terbentuk saat anak-anak mendengar apa yang terjadi dalam kehidupan leluhurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkah Anda mendengar cerita bagaimana orangtua susah membangun ekonomi keluarga dan setelah berhasil mereka mengeluh anaknya tak bisa menghargai nilai uang yang didapat dengan bekerja keras?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini orangtua memiliki andil menciptakan kondisi tersebut. Anak-anak hanya bereaksi terhadap apa yang dilakukan orangtua kepadanya. Jika orangtua melakukan A maka reaksi anak B jika orangtua melakukan D maka reaksi anak C. Jika orangtua tak pernah menceritakan silsilah keluarga yang membuat anak bangga dan tahu arti perjuangan ya…… anak juga tak akan punya ide untuk menghargainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali cerita hebat tentang leluhur hanya menjadi kenangan yang ikut terkubur bersama dengan meninggalnya mereka. padahal cerita-cerita itu bisa menjadi koleksi pengalaman dan kebijaksanaan bagi anak-anak kita. Daripada mereka harus mengalaminya sendiri bukankah lebih baik belajar dari pengalaman orang-orang yang telah melakukannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak kita memerlukan data base untuk mengambil keputusan. Dan pengalaman leluhur kita adalah data base yang berharga. Anak-anak juga perlu memiliki kepercayaan diri sebagai satu individu yang menjadi bagian dari satu keluarga. Saat seseorang tahu bahwa dirinya berasal dari leluhur yang hebat maka ini akan menambah kepercayaan diri dalam bertindak.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu kunci penting saat menceritakan kisah para leluhur adalah selalu cari bagian positif dari satu kisah. Perkuat yang positif dan maknai ulang yang negatif dengan cara melihatnya dari sudut pandang yang lain. Jangan pernah mengatakan “tak ada bagian positif dari leluhur kami yang bisa dibanggakan”. Hal ini terjadi karena kita belum bisa melihat dari sudut pandang yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu cara lagi untuk memperkuat identitas keluarga adalah dengan menciptakan simbol atau lambang atau logo bagi keluarga kita. Secara pribadi anak pertama saya menginspirasi kami sekeluarga saat ia menciptakan sebuah akronim yang bisa mewakili setiap anggota keluarga. Akronim tersebut adalah AFARIOS – mewakili Ariesandi, Fio, Aldo, Rio, Susan. Nama saya dan istri diletakkannya di ujung kiri dan kanan yang dimaksudkannya untuk melindungi ketiga anak. Fio menciptakan lambang keluarga ini saat ia berusia 8 tahun dan kami pakai terus hingga sekarang. Dia begitu bangga menjadi anggota AFARIOS. Dan karena itu sering kami ucapkan maka adik-adiknya pun ikut merasakan hal yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sering mengatakan ‘dalam keluarga AFARIOS semangat disertai ketenangan adalah hal yang penting’ atau ‘dalam keluarga AFARIOS belajar itu menyenangkan’.</p>

<p style="text-align: justify;">Nah sekarang giliran Anda – para orangtua Indonesia tercinta – untuk memikirkan simbol, lambang, akronim atau logo apa yang bisa mewakili keluarga Anda. Pikirkan itu bersama dengan anak-anak (jika usianya sudah dipandang mampu diajak berdiskusi).
Identitas keluarga akan membuat siapapun yang didalamnya bangga dan memperkuat citra diri seorang anak. Hal ini akan meciptakan kaki pendukung bagi kesuksesan anak-anak kita.
<p style="text-align: justify;">Tugas Anda sekarang adalah mengisi pohon keluarga berikut dan kemudian menceritakan kisah-kisah hebat para pelakunya. Jika memungkinkan buatlah ini bersama dengan pasangan dan anak-anak. Jika bagannya kurang silakan lengkapi sendiri sesuai kebutuhan dan jumlah keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Pohon keluarga……………………………………………</p>

<img class="aligncenter size-full wp-image-2039" title="pohon-keluarga" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/pohon-keluarga.jpg" alt="pohon-keluarga" width="550" />
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Kita telah membahas tentang pohon keluarga dan identitas keluarga. Apakah hal penting yang Anda sadari? Minggu depan kita akan membuat ritme keluarga bisa meluncur lebih mulus dalam relnya. Satu rahasia penting lagi akan dibuka untuk Anda. Pastikan Anda tetap bersama kami.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-27-membantu-anggota-keluarga-memperkuat-%e2%80%9cidentitas-keluarga%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 26 : Memperkuat nilai-nilai positif dalam diri setiap anggota keluarga</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-26-memperkuat-nilai-nilai-positif-dalam-diri-setiap-anggota-keluarga</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-26-memperkuat-nilai-nilai-positif-dalam-diri-setiap-anggota-keluarga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 25 s/d 29 - Pondasi Utama Ketiga membangun “Keluarga Impian” : Ciptakan ritme yang dapat diprediksi dan sehat dalam kehidupan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1568</guid>
		<description><![CDATA[Nilai hidup adalah sesuatu yang sangat penting. Nilai hidup adalah kristalisasi pengalaman dan keyakinan. Nilai hidup terbentuk sedikit demi sedikit dan mengeras seiring dengan berjalannya waktu. Nilai hidup akan menjadi pegangan dalam mengambil keputusan penting. Nilai hidup melekat kuat melalui proses tumbuh kembang seseorang bersama dengan keluarganya. Nilai-nilai dalam keluarga akan menjadi sebuah faktor penentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nilai hidup adalah sesuatu yang sangat penting. Nilai hidup adalah kristalisasi pengalaman dan keyakinan. Nilai hidup terbentuk sedikit demi sedikit dan mengeras seiring dengan berjalannya waktu. Nilai hidup akan menjadi pegangan dalam mengambil keputusan penting. Nilai hidup melekat kuat melalui proses tumbuh kembang seseorang bersama dengan keluarganya. Nilai-nilai dalam keluarga akan menjadi sebuah faktor penentu terbentuknya ritme dalam keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga yang memegang nilai kejujuran mengalami ritme berbeda dengan yang tidak mementingkan kejujuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga yang memegang nilai ketenangan dalam berkomunikasi dan saling menghargai satu sama lain mengalami situasi yang berbeda setiap harinya dibanding keluarga yang hanya berorientasi tugas.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga dengan keluarga yang mementingkan kebersihan akan mengalami ritme hidup yang berbeda dengan keluarga yang mementingkan sopan santun.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang penting di sini adalah membuat anggota keluarga kita merasa terikat sebagai satu kesatuan. Dalam perusahaan kita sering menyebut hal ini sebagai ‘corporate culture’. Di sini kita akan menyebutnya sebagai ‘family culture’.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2043" title="42-21857940" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-21857940.jpg" alt="42-21857940" width="400" height="267" /></p>
<p style="text-align: justify;">Family culture ini bisa diberlakukan untuk setiap aspek hidup. Misal dalam aspek spiritual kita menetapkan family culture : berdoa bersama setiap pagi dan malam hari. Berdoa setiap hendak makan. Berdoa setiap hendak belajar. Pergi ke tempat ibadah bersama-sama pada hari tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam aspek relasi sosial : selalu menyapa orang lain dengan sopan, selalu menanyakan kabar orang lain, selalu menyapa orang yang lebih tua, selalu mempersilakan orang yang lebih tua untuk memulai sesuatu terlebih dahulu, selalu membicarakan kebaikan orang lain, tidak boleh menertawakan orang lain yang mengalami kekurangan, hormat pada siapapun tak memandang status sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam aspek mental : selalu berkata dan bertindak jujur, selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai suatu impian, selalu memandang segala sesuatu dari segi positif, selalu berkomentar dengan positif, selalu menyikapi segala sesuatu dengan penuh keyakinan, selalu membantu saudara,  selalu bertindak dengan penuh semangat dan selalu giat belajar apapun untuk meningkatkan diri, selalu menanggapi segala sesuatu dengan tenang serta selalu mensyukuri apapun yang didapat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam aspek fisik : selalu membiasakan minum air putih, makan lebih banyak sayuran dan buah-buahan, menghindari makanan cepat saji, menghindari makanan berpengawet, menghindari makanan yang digoreng, selalu menyediakan waktu untuk berolah raga dengan teratur, selalu sikat gigi 2 kali sehari, selalu mandi dengan riang 2 kali sehari, menjaga kebersihan pakaian dan penampilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah manakah dari nilai-nilai atau kebiasaan di atas yang menjadi kebiasaan keluarga kita? Nilai-nilai atau budaya tersebut akan membuat anggota keluarga kita berjalan di atas sebuah rel seperti kereta api. Selanjutnya hal tersebut akan mengkristal membentuk perilaku yang otomatis dan akhirnya membentuk nilai hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak dari kita dibesarkan dengan nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak disiapkan dengan sengaja – mengalir begitu saja. Kita diharapkan mengerti sendiri seiring dengan bertambahnya usia. Akhirnya kita pun melakukan hal yang sama pada saat dikaruniai anak. Akibatnya adalah kita tak sadar melakukan apa dan apa akibatnya. Kita baru tersadar melakukan kekeliruan setelah anak-anak kita dalam sebuah masalah.  Pada saat seperti ini biasanya perbaikan lebih sulit dilakukan dan memakan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah sekarang – Anda para orangtua Indonesia – memiliki satu kesempatan emas untuk mengubah masa depan anak-anak dan keluarga Anda. Ambillah waktu dengan pasangan untuk menentukan nilai—nilai apa yang mau kita buat dalam keluarga kita. Katakan pada anak “Keluarga kita selalu berkata dan bertindak jujur, menghormati orang yang lebih tua dan senantiasa semangat menghadapi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Katakan” pada anak mengapa begini dan begitu. Ceritakan bagaimana kita tak produktif bila mengatakan hal yang negatif dan sebagainya. Anak perlu tahu apa alasan dibalik sebuah tindakan. Bukan hanya melakukan seperti robot. Dengan begitu mereka bisa bertindak penuh kesadaran diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Baiklah sekarang isikan dengan cepat apa yang mau Anda terapkan pada keluarga sebagai pondasi meletakkan nilai-nilai hidup atau ‘family culture’.</p>

<p style="text-align: justify;">Aspek spiritual :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

<p style="text-align: justify;">Aspek relasi sosial :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

<p style="text-align: justify;">Aspek mental :
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….................………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
<p style="text-align: justify;">Aspek fisik :</p>
<p style="text-align: justify;">………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………</p>

<p style="text-align: justify;">Aspek lain yang dipandang penting :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Pondasi telah dibangun dan sekarang kita harus menjaganya agar semakin kokoh. Minggu depan kita akan membahas bagaimana memperkuat apa yang telah kita tanam. Kita akan membangun sebuah identitas keluarga. Saat orang lain memikirkan keluarga kita apa yang kita ingin mereka pikirkan? Keluarga yang berantakan? Keluarga yang harmonis dan saling menghargai? Keluarga yang penuh semangat atau keluarga yang selalu menimbulkan masalah setiap kali muncul? Hmm … itulah identitas keluarga yang melekat pada setiap keluarga dimanapun berada. Identitas ini penting untuk dibangun dan diwariskan pada anak-anak. Bersiaplah untuk membangun identitas keluarga minggu depan!</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-26-memperkuat-nilai-nilai-positif-dalam-diri-setiap-anggota-keluarga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu 25 : Menciptakan arah dan ritme yang dapat diprediksi</title>
		<link>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-25-menciptakan-arah-dan-ritme-yang-dapat-diprediksi</link>
		<comments>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-25-menciptakan-arah-dan-ritme-yang-dapat-diprediksi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Online Class</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minggu 25 s/d 29 - Pondasi Utama Ketiga membangun “Keluarga Impian” : Ciptakan ritme yang dapat diprediksi dan sehat dalam kehidupan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://class.sekolahorangtua.com/?p=1566</guid>
		<description><![CDATA[Segala sesuatu dalam alam semesta memiliki ritme / irama. Matahari keluar dengan irama tertentu demikian juga bulan. Di dalam tubuh kita jantung pun memiliki irama tertentu memompa darah ke seluruh tubuh.
Saat janin masih mendekam di dalam rahim ia mendengar detak jantung yang terus menerus dan lembut dari ibunya. Dan ini berlanjut saat si ibu menimangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Segala sesuatu dalam alam semesta memiliki ritme / irama. Matahari keluar dengan irama tertentu demikian juga bulan. Di dalam tubuh kita jantung pun memiliki irama tertentu memompa darah ke seluruh tubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat janin masih mendekam di dalam rahim ia mendengar detak jantung yang terus menerus dan lembut dari ibunya. Dan ini berlanjut saat si ibu menimangnya dan mendekapnya di dada begitu ia keluar dari rahim.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya irama adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Anak-anak  memerlukan ritme dalam hidupnya. Ritme ini pada awalnya belum ada dalam diri mereka. Kita – orangtua – yang perlu mengkondisikan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap keluarga juga memiliki irama. Keluarga yang memiliki satu anak dengan 2 anak jelas memiliki ritme hidup yang berbeda. Demikian juga dengan keluarga yang tinggal di sebelah rumah kita jelas memiliki ritme yang berbeda walau mungkin jumlah anaknya sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ritme atau irama diperlukan anak-anak dan anggota keluarga yang lain untuk membuat mereka tahu bahwa mereka ada di jalur yang benar. Irama ini akan mengkondisikan mereka dan pada akhirnya menciptakan sebuah kebiasaan. Dengan ritme anggota keluarga kita jadi bisa memperkirakan waktu dan kegiatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di minggu berikutnya kita masih akan membahas topik di seputar menciptakan ritme keluarga. Pada bagian ini sekarang kita akan membahas satu hal yang perlu diciptakan untuk mengawali terbentuknya ritme keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2046" title="42-20859754" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-20859754.jpg" alt="42-20859754" width="400" height="267" /></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengawali terbentuknya ritme :</p>

<ul style="text-align: justify;">
	<li>Bermainlah dan lakukan aktivitas bersama keluarga
<ul>
	<li>Buatlah jadwal rutin untuk bermain / melakukan aktivitas bersama keluarga. Jadwal membuat kita memiliki komitmen dan anggota keluarga yang lain memiliki acuan untuk menentukan kegiatannya. Seberapa pun waktu yang kita miliki akan berharga bagi anggota keluarga. Seringkali anak-anak memiliki jadwal les pelajaran sekolah yang begitu padat sehingga tak punya jadwal dengan keluarganya sendiri. Dan lebih celakanya lagi orangtuanya pun memiliki jadwal rutin dengan bisnisnya tapi tidak dengan keluarganya. Banyak orang memilih hari minggu sebagai jadwal rutin keluarga namun biasanya itupun hanya diisi dengan kegiatan yang sifatnya miskin komunikasi hati ke hati. Jadi hal penting yang perlu dilakukan di sini adalah : komunikasi dari hati ke hati.</li>
	<li>Rencanakan suatu kegiatan bersama jauh hari sebelumnya. Misal rencana berkemah. Atau pergi ke suatu tempat yang menarik seperti gunung, hutan suaka, atau bahkan berlibur ke luar negeri. Pada saat merencanakannya libatkan seluruh anggota keluarga. Jika anak-anak masih terlalu kecil maka kita memberikan alternatif pilihan. Kita ceritakan dan jika memungkinkan tunjukkan gambarnya lewat internet. Hal ini menjadi sarana membangun kedekatan emosional dan komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Aktivitas  lain yang menarik adalah rencana berkunjung ke panti asuhan. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk merencanakan apa yang akan dibawa, apa yang akan dilakukan di sana dan sebagainya. Komunikasi yang terjadi sewaktu persiapan adalah sebuah hal yang bernilai tinggi.</li>
</ul>
</li>
	<li>Jika hendak memainkan permainan maka pilih permainan yang bisa melibatkan seluruh keluarga. Anak-anak secara alamiah menyukai permainan yang melibatkan keluarganya. Dan mereka juga penemu-penemu kecil yang hebat. Mereka bisa menemukan permainan baru dari apapun juga yang ada di sekitarnya. Permainan bersama ini akan membuat relasi antar anggota keluarga menjadi lebih erat. Menonton TV bersama bukan suatu aktivitas yang disarankan karena biasanya terjadi sedikit atau bahkan tidak ada interaksi sama sekali.</li>
	<li>Beberapa ide permainan keluarga yang bisa dimainkan secara rutin : halma, ular tangga, monopoli, kartu remi, kartu domino, sembunyi-sembunyian, bowling dengan bola tenis dan botol plastik bekas, bersepeda, sepak bola di teras rumas, kartu uno, stacko, tumbling monkey (tiga terakhir bisa didapat di toko mainan yang ada di mall)</li>
	<li>Beberapa aktivitas keluarga yang bisa direncanakan jauh hari sebelumnya : mencuci mobil, memasak, membuat kue, berkemah, mengikuti tour pelajaran tentang alam, berkunjung ke panti asuhan, berkunjung ke panti jompo, membersihkan taman rumah, membersihkan lingkungan rumah, piknik di alam terbuka, bermain dalam guyuran hujan dan lain sebagainya. Ingat kunci penting di sini adalah libatkan seluruh anggota keluarga saat mempersiapkannya sehingga terjadi komunikasi yang baik satu sama lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2047" title="42-22445277" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/09/42-22445277-300x300.jpg" alt="42-22445277" width="300" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak kasus terapi orang dewasa seringkali terjadi peristiwa bersama keluarga yang sangat mengesankan adalah saat mereka sebagai anak berkumpul bersama ayah dan ibunya melakukan sesuatu sebagai satu keluarga. Ya … sebenarnya waktu bermain bersama keluarga (apalagi bisa rutin dilakukan) adalah sebuah hal yang diinginkan anak-anak. Mereka sebenarnya tak perlu berlibur ke tempat mewah atau ke luar negeri. Atau dibelikan mainan yang mahal. Mereka hanya memerlukan waktu dengan ayah dan ibunya untuk bermain dan melakukan aktivitas bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Komunikasi yang intens antar anggota keluarga saat melakukan suatu aktivitas atau permainan akan membuat anak lebih mudah menemukan jati dirinya ketika beranajak dewasa. Selain itu mereka belajar bagaimana membantu anggota keluarga yang lain saat mengalami kesulitan. Mereka secara tidak langsung belajar bagaimana berempati.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibat tidak langsung lainnya adalah anak-anak akan belajar menumbuhkan citra diri yang sehat dan harga diri yang baik. Ini dikarenakan mereka terlibat secara aktif dengan ayah dan ibu sehingga mereka merasa diperlukan dan berharga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sekarang ini banyak sekali anak terjebak dalam rutinitas ‘ 7 – 5’. Artinya mereka masuk sekolah jam 7 dan pulang rumah jam 5 sore. Sedangkan orangtuanya terjebak rutinitas ‘7 – 8’ artinya berangkat kantor jam 7 dan pulang rumah jam 8 malam. Akibatnya komunikasi yang terjadi seringkali – tidak semuanya – hanya komunikasi yang bersifat supervisi. Jika mereka keluar bersama hari minggu biasanya komunikasi juga masih miskin. Karena orangtua sering sibuk dengan urusannya sendiri dan anak-anak masing-masing membawa game di tangannya dan sibuk sendiri-sendiri. Anak-anak tumbuh dalam kekosongan hati. Mereka dekat dengan keluarga secara fisik saja. Ritme dalam keluarga seperti ini sangat kaku dan tidak harmonis. Anak tumbuh dalam satu keluarga tapi mereka tidak merasa menjadi bagian istimewa dalam keluarga tersebut. Mereka tumbuh dengan keegoisan tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian terpenting dari materi minggu ini adalah menyusun rencana tindakan dan melakukannya. Ambil waktu dengan pasangan Anda dan tentukan jadwal rutin untuk bermain bersama keluarga. Tentukan juga aktivitas bersama yang akan dilakukan. Setelah itu ajak anak-anak berunding mempersiapkan segala sesuatunya. Agar terkesan lebih halus sodorkan beberapa pilihan aktivitas bersama kepada anak dan jelaskan benefit  masing-masing. Setelah itu lakukan voting keluarga tentang apa yang akan dilakukan terlebih dahulu. Apapun yang dipilih anak tidak menjadi masalah toh nanti juga akan dilakukan semuanya. Inilah kebebasan yang terarah. Ini kita lakukan sampai anak-anak berani mengungkapkan idenya untuk melakukan suatu aktivitas.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-916" title="materiberikutnya" src="http://class.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2009/07/materiberikutnya.jpg" alt="materiberikutnya" width="104" height="84" />Pernahkah anda kebingungan bagaimana membantu anak kita tumbuh dalam harga diri yang sehat dan memiliki nilai hidup yang baik? Citra diri, harga diri dan nilai hidup yang baik adalah hal mendasar dalam sebuah proses mendidik anak. Minggu berikutnya kita akan membahas hal ini. Pastikan Anda tetap bersama kami.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://class.sekolahorangtua.com/materi/minggu-25-menciptakan-arah-dan-ritme-yang-dapat-diprediksi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

