Written by Tim Online Class on June 10th, 2009
Minggu 23 : Ciptakan situasi emosional aman dan damai di rumah
Sebuah rumah adalah sebuah tempat dimana anggota keluarga merasa aman dan damai tinggal di dalamnya. Mother Teresa – seorang tokoh perdamaian dunia – pernah ditanya oleh wartawan apa pesannya bagi perdamaian dunia. Dan ia menjawab “Pulang dan cintailah keluargamu”. Ya …… sebuah pesan yang begitu singkat namun memiliki makna mendalam dan terkadang sulit dilakukan.
Sebagai orang dewasa terkadang kita sering bertingkah laku aneh. Saat di luaran kita sering begitu sopan dan sabar pada orang lain. Namun begitu memasuki pagar rumah sendiri tiba-tiba kita merasa memasuki suatu daerah dimana kita berpikir bisa melampiaskan emosi dengan seenaknya. Akhirnya keluarga menjadi korban ego kita. Anak-anak adalah yang paling kasihan menerima semua itu. Termasuk juga kucing atau anjing peliharaan yang terkadang harus menerima tendangan tak terduga.
Written by Tim Online Class on June 10th, 2009
Minggu 22 : Pertahankan komitmen menjaga prioritas yang telah dibuat
Halo para orangtua tercinta, selamat berjumpa kembali di minggu ini dengan satu topik tentang bagaimana kita bisa mempertahankan komitmen untuk tetap memprioritaskan keluarga sehingga kita bisa membantu setiap anggota keluarga untuk mengeluarkan potensi uniknya.
Di minggu sebelum ini kita telah membahas tentang apa yang terjadi pada kebanyakan keluarga. Mereka mengatakan bahwa mereka bekerja demi anak dan pasangan. Namun kenyataannya anak dan pasangannya adalah yang paling sedikit menikmati kebersamaan dengan mereka. Akibatnya setelah beberapa tahun berlalu para orangtua tak menyadari apa yang menjadi kelemahan anak mereka. Mereka mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang muncul sebagai tanda peringatan. Akhirnya sinyal-sinyal itu membesar dan meletus menjadi sebuah perilaku yang merugikan diri anak dan keluarga. Pada tahap ini barulah orangtua menyadari kekeliruannya.
Written by Tim Online Class on June 10th, 2009
Minggu 21 : Prioritaskan keluarga saat membuat rencana kerja
Sebuah percakapan antara ayah, ibu dan kedua anaknya di ruang keluarga saat makan pagi bersama:
Ayah : Anak-anak hari ini kita akan pergi bersama ke luar kota dan menginap 2 hari di vila yang sejuk. Kalian pasti menyenanginya bukan? Anak 1 : Lho, katanya ayah masih sibuk dan ada janji? Kami sudah janjian dengan Stevan untuk main di rumahnya hari ini. Ayah : Ya memang sebelumnya Ayah ada janji namun tiba-tiba dibatalkan oleh teman Ayah. Jadi sekarang Ayah ada waktu luang untuk bersama kalian. Anak 2 : tapi kami kan sudah janji untuk main video game bersama dan makan dalam tenda di rumah Stevan,Yah? Ayah : ah, nanti lain waktu aja kan bisa. Sekarang kan Ayah ada waktu luang ayo kita manfaatkan. Ibu : Sudahlah batalkan saja janji dengan temanmu. Sekarang Ayah mau ajak kita lho! Anak 1: Tapi kata Ayah dan Ibu kita tak boleh seenaknya membatalkan janji dengan orang lain kecuali memang tak mungkin kita penuhi. Aku senang juga diajak keluar kota tapi aku juga ingin main video game bersama Stevan. Ayah : glkk … Ibu : (mulutnya ternganga) ehh …

Written by Tim Online Class on June 10th, 2009
Minggu 20 : Perkembangan Bahasa
Halo, para orangtua pembelajar. Kali ini kita akan membahas mengenai tahapan perkembangan bahasa yang dialami oleh anak kita. Mengapa hal ini dianggap penting sehingga perlu dibahas ? Karena kemampuan berbahasa sebenarnya merupakan keterampilan yang kompleks, yang tidak didapat anak sejak lahir melainkan harus dilatih. Itulah sebabnya anak yang dibesarkan di lingkungan berbahasa indonesia hanya bisa berbahasa indonesia, anak yang terbiasa mendengarkan bahasa inggris akan berbicara dalam bahasa inggris pula. Dengan mengetahui tahapan perkembangan bahasa seorang anak, kita dapat membantunya berkembang dan menstimulasi.
Written by Tim Online Class on June 10th, 2009
Minggu 19 : Otak dan Perkembangan Kognitif (bagian 2)
Perkembangan Anak Usia 2-7 tahun
Proses kognitif anak usia ini diwarnai oleh kemampuan berimajinasi dengan mental. Padahal pada usia sebelumnya, anak hanya mampu berpikir mengenai hal-hal yang mereka hadapi sehari-hari (nyata). Namun belum mampu menciptakan bayangan secara mental. Perkembangan kognitif pada usia 2-7 memiliki 2 ciri yaitu simbolis dan pemikiran intuitif.
Ciri simbolis dimulai pada usia 2-4 tahun. Dalam tahapan ini anak telah mampu menterjemahkan gambaran-gambaran yang ada di dalam pikirannya ke dalam bentuk 2 dimensi yaitu berupa gambar di atas kertas. Anak-anak mengekspresikan tiap pemikiran mereka dengan jujur dan polos. Anda dapat menemukan gambaran imajinasi anak usia 2-4 tahun berupa matahari berwarna hijau, mobil terbang atau kucing memiliki ekor 8, hanya di dunia anak-anak usia ini.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 18 : Otak dan Perkembangan Kognitif (bagian 1)
Otak dan Perkembangan Kognitif
Perkembangan otak dan kognitif manusia sangat tergantung pada stimulasi dan makanan bergizi yang diberikan sejak tahun pertama kelahirannya. Kisah nyata mengenai tidak berkembangnya otak sebagai akibat kekurangan kedua hal itu, terjadi pada seorang bocah 5 tahun, Natasha. Natasha yang berasal dari Chiata, Siberia diasuh oleh sekumpulan anjing dan kucing. Padahal ia tinggal bersama ayah, kakek neneknya dan 3 saudara kandungnya. Entah kenapa, Natasha kecil ini diperlakukan seperti hewan peliharaan. Para tetangga juga tidak mengetahui jika di apartemen yang dihuni 3 orang dewasa ini dan 3 orang anak, terdapat seorang anak kecil berusia 5 tahun.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 17 : Perkembangan Sosial Emosi (bagian 2)
Perkembangan Anak Usia 5-6 tahun
Perkembangan sosial
Pada usia 5-6 tahun, lingkup sosial anak menjadi lebih luas dibandingkan sebelumnya. Kematanganya dalam hal bahasa, emosi dan motorik memungkinkan anak untuk memiliki lingkup sosial yang lebih besar. Sejumlah peneliti berargumen bahwa relasi anak-orangtua merupakan faktor penting sebagai landasan emosional anak dalam berelasi dengan teman sebayanya. Relasi orangtua anak berhubungan dengan relasi anak dengan teman sebayanya. Relasi dengan teman sebaya lebih bersifat melatih diri sendiri dalam mengemukakan pendapat, menghormati cara pandang orang lain, bekerjasama mencari solusi ketika terjadi perselisihan, dan mengembangkan standar perilaku yang diterima secara sosial. Sedangkan relasi orangtua anak lebih didasarkan pada kebutuhan akan dukungan emosional dan penanaman mengenai aturan dasar. Dasar dari interaksi dengan teman sebaya ini didasari oleh relasi anak dengan orangtua terlebih dahulu.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 16 : Perkembangan Sosial Emosi (bagian 1)
Perkembangan anak usia 1-2 tahun
Pada usia 1-2 tahun ini merupakan usia peralihan bayi menjadi anak-anak. Dalam usia ini, ketergantungan terhadap orangtua mulai sedikit demi sedikit berkurang karena kematangan fisiknya. Ia sudah mampu berjalan sehingga tidak perlu digendong terus menerus dan mulai belajar makan sendiri. Ia juga mulai belajar memegang benda-benda di sekelilingnya sebagai dampak dari keingintahuannya terhadap lingkungannya.
Masa kritis perkembangan anak pada usia ini adalah kepercayaan terhadap lingkungannya. Kepercayaan tersebut terbentuk dari responsivitas lingkungan, terutama pengasuh, terhadap kebutuhan anak-anak. Kepercayaan terhadap pengasuhnya akan membantunya untuk mempercayai dirinya sendiri bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi lingkungannya. Kepercayaan ini akan berdampak pada perkembangan anak selanjutnya.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 15 : Perkembangan Motorik
Perkembangan Motorik anak usia 1-2 tahun
Motorik kasar :
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 14 : Apakah Perkembangan Diri Anak adalah Bawaan (nature) atau Bentukan Lingkungan (nurture) ?
Ada pepatah umum yang beredar di kalangan masyarakat yaitu tiap anak dilahirkan bagaikan kertas putih yang bersih, lingkunganlah yang harus mengisi kertas tersebut sehingga anak dapat menjadi orang dewasa yang berguna. Kesalahan dalam mengisi akan membuat masa depan si anak menjadi buram. Jadi masa depan anak tergantung pada proses pendidikan/pengasuhan yang dilewati oleh anak.
Namun ada pihak lain yang mengklaim bahwa seorang anak tidak dilahirkan seperti kertas putih karena didalam diri mereka telah ada bawaan alamiah seperti karakter, kepribadian dll. Jadi anak-anak akan menjadi orang dewasa sesuai dengan yang telah digariskan/diberikan pada mereka sejak mereka lahir.
Pendapat manakah yang benar ?
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 13 : Manfaat dan penggunaan “I” message untuk menangani konflik dalam keluarga
“Selalu begitu… Mama memang tidak bisa mengerti aku.” “Bukan itu yang aku maksud, pa ! Papa ngertiin aku dong.” “Kenapa selalu aku yang harus mengalah? Mama selalu pengin menang sendiri.”
Pernyataan diatas pasti sering anda dengar dalam komunikasi antara orangtua dan anak. Salah satu pihak merasa tidak dimengerti oleh pihak lain hanya karena kesalahpahaman yang terjadi karena adanya hambatan komunikasi. Orangtua merasa sudah menawarkan solusi yang mendatangkan kebaikan bagi si anak namun si anak merasa orangtua tidak mampu memahami keinginan dan harapannya. Dimana letak kesalahannya ?
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 12 : Berkomunikasi dan Mengisi Tangki Cinta (Bagian 3)
Setelah di minggu lalu kita mendalami tentang apa itu bahasa cinta serta bagaimana mengisi tangki cinta kali ini kita akan membahas lebih dalam lagi tentang kegunaan tangki cinta dalam hal membantu anak-anak mendisiplinkan diri serta bagaimana kita dan pasangan bisa menjadi makin kompak.
Yang pertama tentang disiplin. Seringkali orangtua mengeluhkan betapa sulitnya mendisiplinkan anak-anak mereka. Salah satu faktor tentang disiplin yang penting adalah teladan. Apakah kita juga melakukan yang kita minta pada anak-anak. Misalnya kita meminta anak untuk rajin belajar namun anak tidak pernah melihat kita dengan tekun duduk dan membaca buku. Malah mereka melihat kita menonton TV dan membaca koran. Atau kita meminta mereka untuk mandi tepat waktu namun kita sendiri sering mandi dengan waktu seenaknya sendiri dengan alasan pekerjaan masih setengah jalan dan lain sebagainya. Akhirnya yang ditiru oleh anak-anak adalah membuat alasan untuk menghindari sesuatu.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 11 : Berkomunikasi dan Mengisi Tangki Cinta (Bagian 2)
Minggu lalu kita telah membicarakan apa yang mendasari konsep tangki cinta. Kita telah membahas tentang mengapa jauh lebih penting membuat seorang anak merasa dicintai daripada orangtua yang merasa telah mencintai anaknya. Kita juga telah membahas tentang pengaruh tangki cinta dan perilaku anak. Jika masih ada materi yang masih kurang jelas silakan membuka kembali materi minggu sebelumnya karena konsep tangki cinta ini sangatlah penting. Banyak sekali problem yang terjadi antara anak dan orangtua bermula dari kurang pahamnya orangtua tentang konsep maha penting ini.
Sekarang kita akan membahas bagaimana cara mengisi tangki cinta anak dan pasangan kita.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 10 : Berkomunikasi dan Mengisi Tangki Cinta (Bagian 1)
Pada minggu sebelumnya kita telah memahami bagaimana gaya pengasuhan dan tipologi kepribadian memiliki pengaruh sangat besar dalam cara kita berkomunikasi dengan seorang anak ataupun bahkan dengan pasangan kita.
Nah sekarang kita akan membahas satu topik penting yang membuat seorang anak akan merasa dicintai ataupun tidak oleh orangtuanya. Apaaaa? Mungkinkah seorang anak akan merasa tak dicintai oleh orangtuanya? Ya … itu mungkin terjadi dan sangat sering. Tapi sebagai orangtua kan kita selalu mencintai anak-anak kita? Apakah mungkin mereka merasa tidak kita cintai? Lalu menguap kemana cinta kita?
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 09 : Beradaptasi dan berkomunikasi dengan berbagai tipologi kepribadian
Pada materi yang lalu kita telah belajar mengenai pentingnya memahami karakteristik dari masing-masing tipologi kepribadian dan kita telah mengisi kuesioner yang berguna untuk lebih memahami tipologi diri sendiri, anak dan pasangan kita. Minggu ini, kita akan belajar mengenai bagaimana cara berkomunikasi serta beradaptasi dengan tipologi kepribadian berbeda dengan diri kita.
Guna mempermudah mengingat kembali setiap tipologi kepribadian maka kami cantumkan kembali di sini rangkuman dari setiap tipologi kepribadian lalu di bagian bawahnya diikuti dengan bagaimana harusnya kita bersikap saat menghadapi seorang anak yang memiliki tipologi kepribadian tertentu.
Rangkuman Koleris :- “Saya mau melakukan menurut CARA SAYA!”
- Saya suka tantangan
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 08 : Karakteristik dari tiap Kepribadian
Apakah anda menyadari bahwa saat menghadapi kejadian yang sama dua orang individu dapat bereaksi secara berbeda? Saat seorang anak tidak menuruti perintah orangtuanya maka reaksi kita akan berbeda satu sama lain. Mengapa demikian ? Apa yang menyebabkan perbedaan reaksi orangtua yang satu dengan yang lainnya ?
Di dalam diri manusia ada satu komponen psikologis yang disebut dengan kepribadian. Kepribadian inilah yang mempengaruhi reaksi tiap orang dalam menghadapi kejadian yang sama. Kepribadian tiap orang dipengaruhi oleh :
- Karakter dasar yang dibawa sejak lahir (takdir dari Sang Pencipta)
- Pengalaman hidup
- Proses berpikir yang ada dalam dirinya.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 07 : Memahami diri sendiri dan anggota keluarga yang lain melalui pemahaman tipe kepribadian
Mengenal Gaya Pengasuhan Dalam Diri Anda Bagian 2 Minggu kemarin kita telah membahas tentang gaya pengasuhan Anda sebagai orangtua kepada anak. Gaya pengasuhan yang telah kita bahas, yaitu Authoritarian. Makin penasaran dengan gaya pengasuhan Anda? Marilah kita bahas lebih dalam lagi pada minggu ini. Ingat ini bukan untuk menimbulkan perasaan bersalah pada diri kita namun justru untuk memacu kita menyadari apa yang telah dan akan kita lakukan pada anak-anak bisa sangat memengaruhi masa depannya dan masa depan keluarga secara keseluruhan. Terlebih dahulu, mari kita membahas tentang Ringkasan Gaya Orangtua Permisif / Permissive / Nondirective.
Ringkasan Gaya Orangtua Permisif / Permissive / Nondirective:
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 06 : Mengenal Gaya Pengasuhan Dalam Diri Anda
Tentunya, Anda telah menyusun sebuah rencana pelaksanaan untuk membentuk sebuah keluarga impian Anda, maka saat ini Anda akan dibimbing kembali untuk mencapai rencana impian Anda. Sebuah rencana dapat berhasil dilaksanakan jika kita telah mengenal komponen-komponen pendukung rencana dan menginspirasi tiap komponen tersebut agar dapat berfungsi mencapai rencana.
Dalam minggu ini, kita akan banyak membahas komponen-komponen pendukung sebuah rencana keluarga impian. Komponen tersebut terdiri dari Anda, pasangan Anda, dan anak-anak Anda. Kita akan mulai mengenal diri Anda sendiri terlebih dahulu melalui gaya Anda mengasuh anak-anak Anda dan mengenal gaya respon anak. Materi minggu ini akan membantu Anda untuk mengenal gaya pengasuhan yang selama ini telah Anda terapkan, Anda juga akan mengenal gaya anak Anda berespon dengan orang lain, dan Anda akan dibimbing untuk menyesuaikan gaya pengasuhan dengan gaya respon anak Anda.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 05 : Membuat Daftar “Keluarga Impian”
Pernahkah Anda menonton pertandingan sepak bola atau bola basket? Seru bukan? Pertanyaannya adalah apakah sebenarnya yang membuat pertandingan tersebut seru? Ya … yang pasti dikarenakan adanya gawang atau ring basket. Bayangkan apa jadinya jika dalam pertandingan sepak bola tidak ada gawangnya dan dalam pertandingan basket tidak ada ringnya. Para pemain hanya akan mengejar bola kesana kemari tanpa tujuan jelas. Demikian juga seandainya para pelari maraton tidak pernah mendapati adanya garis finish – hanya berlari tanpa hasil akhir yang jelas apakah berhasil atau gagal.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 04 : Memusatkan Perubahan
Sekarang tibalah saatnya kita menggunakan semua sumber daya kita untuk benar-benar menjalankan komitmen yang telah kita sepakati bersama. Sebelum kita lanjutkan saya mengingatkan Anda semua – terutama baagi yang belum menetapkan komitmen – untuk segera menentukan satu komitmen untuk membuat perubahan dalam diri ataupun keluarga Anda. Lakukan sekarang.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 03 : Membuat “Komitmen Ajaib” bersama pasangan
Komitmen
Ada sebuah perumpamaan bagus tentang kehidupan berpacaran sampai pernikahan. Ketika sepasang kekasih berpacaran mereka sekedar terlibat dalam kehidupan satu sama lainnya. Dan ketika mereka bertunangan mereka terlibat secara lebih mendalam dan mengenakan ‘engagement ring’ (cincin pertunangan).
Jika pertunangan berlanjut hingga ke pernikahan maka keduanya terikat dalam sebuah komitmen satu sama lain. Ya pernikahan adalah sebuah komitmen. Dalam pernikahan pasangan yang menikah mengenakan ‘wedding ring’ (cincin pernikahan).
Saat keduanya sudah punya anak maka layaknya ada cincin ketiga yaitu ‘suffer-ring’ (cincin derita). Ya … kebanyakan orangtua merasa setelah memiliki anak maka kehidupan mereka menjadi tidak begitu mudah seperti sebelumnya. Syukurlah jika beberapa dari kita betul-betul merasakan kebahagiaan yang tulus saat dikaruniai anak. Apapun yang terjadi memiliki anak menuntut komitmen yang lebih besar lagi.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 02 : Menengok “masa lalu” untuk membangun impian “masa depan”
Pengaruh pengalaman masa lalu pada kehidupan pribadi seseorang
Seorang petani yang baru belajar menanam padi sedang sibuk menaburkan pupuk pada sebidang tanah yang hendak ia jadikan lahan untuk menanam. Setelah setengah harian ia bekerja maka ia merasa siap untuk menanam bibit-bibit padinya. Disemaikan semua bibit padinya pada lahan yang tak terlalu luas tersebut. Ia menaruh harapan besar pada lahan tersebut.
Seminggu sudah berlalu dan ia merawat tanamannya dengan hati-hati. Sebulan berlalu dan ia tetap rajin merawat tanaman padinya. Minggu demi minggu telah berlalu dan ia mulai menjumpai keanehan. Tanaman padinya bertumbuh tidak sebagaimana harusnya. Tanaman itu hanya setinggi separo dari seharusnya dan kurus kering. Ia terus memberi pupuk tambahan dan berharap ada perubahan.
Written by Tim Online Class on June 8th, 2009
Minggu 01 : Menjadi orangtua itu tak mudah tapi mengapa kita masih mau?
Pada sebuah surat kabar saya menjumpai satu iklan lowongan pekerjaan yang aneh. Mau tidak mau iklan ini menarik perhatian. Berikut di bawah ini adalah iklan yang saya maksudkan:

Menurut Anda apakah akan ada orang yang tertarik untuk mengirimkan surat lamaran memenuhi tantangan pekerjaan tersebut? Hmm … sepertinya tidak akan ada. Kalaupun ada mungkin orang itu adalah orang yang sudah putus asa dalam hidupnya dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi.
Namun anehnya banyak orang telah menjalani pekerjaan tersebut dengan tanpa disadari. Ya … itulah pekerjaan yang dikenal dengan sebutan ORANGTUA.
Written by Tim Online Class on June 6th, 2009
Overview : Apa Itu Super Family Online Class?
Selamat Datang di Program Super Family Online Class dari SekolahOrangtua.com!
Klik tombol Play di bawah ini untuk melihat pesan khusus dari Bp Ariesandi Setyono CHt – salah satu pendiri Sekolah Orangtua
Video Bagian 1
Video Bagian 2
Dalam program ini saya – Ariesandi S.,CHt dan team SekolahOrangtua.com – akan berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan anda semua tentang segala hal yang berkaitan dengan mendidik dan mengasuh anak juga bagaimana meningkatkan diri kita agar menjadi orangtua idaman bagi anak-anak tercinta kita sekaligus pasangan yang baik bagi mantan pacar kita yang telah resmi menjadi pendamping kita seumur hidup.